Yield SUN Melonjak Akibat Tekanan Jual dan Pelemahan Rupiah
Tekanan jual melanda pasar obligasi domestik seiring lonjakan imbal hasil atau yield Surat Utang Negara pada perdagangan hari Senin, 8 Juni 2026. Situasi ini dipicu oleh pelemehan nilai tukar rupiah yang merosot sebesar 0,57 persen menuju posisi Rp18.129 per dolar AS, sebagaimana dilansir dari Bloombergtechnoz.
Kenaikan paling tinggi dialami oleh yield SUN tenor 5 tahun sebesar 18,5 basis poin menjadi 7,13 persen berdasarkan data Bloomberg. Menyusul di belakangnya, tenor 2 tahun meningkat 13,5 bps ke posisi Rp7,09 persen dan tenor 3 tahun naik 12,4 bps mencapai 7,06 persen.
Peningkatan juga terjadi pada tenor 8 tahun sebesar 15,3 bps ke posisi 7,07 persen, sedangkan tenor acuan 10 tahun merangkak naik 11,9 bps ke angka 6,99 persen. Keadaan kurva yield saat ini masih terinversi yang ditandai dengan yield tertinggi pada tenor 1 tahun yang meningkat 3,8 bps hingga mencapai 7,24 persen.
Fenomena kurva terinversi ini memperlihatkan tingginya ketidakpastian jangka pendek sehingga investor mengharapkan kompensasi lebih tinggi. Keadaan di pasar surat utang tersebut dinilai sebagai akibat dari adanya proses normalisasi kurva yield yang sempat mengalami distorsi oleh kebijakan otoritas.
"Kurva yield yang saat ini masih berbentuk inverted-humped diakibatkan oleh intevensi yang berlebihan demi menjaga stabilitas rupiah, serta cost of fund pemerintah tetap rendah sesuai asumsi APBN tahun fiskal 2026 pada 10Y SUN yield 6,9%," sebut Lionel Priyadi, Fixed Income & Macro Strategist, Mega Capital Sekuritas.
Menurut analisis Lionel Priyadi, pertahanan terhadap kondisi tersebut kini kian berat akibat menurunnya kepercayaan pasar atas prospek fiskal dalam negeri. Defisit fiskal berdasarkan trailing twelve months sudah menyentuh angka 3,48 persen terhadap PDB hingga bulan Mei, sehingga menimbulkan kekhawatiran terkait kebutuhan pembiayaan pemerintah ke depan.
"Kurva yield yang saat ini masih berbentuk inverted-humped diakibatkan oleh intevensi yang berlebihan demi menjaga stabilitas rupiah, serta cost of fund pemerintah tetap rendah sesuai asumsi APBN tahun fiskal 2026 pada 10Y SUN yield 6,9%," sebut Lionel Priyadi, Fixed Income & Macro Strategist, Mega Capital Sekuritas.
Aksi jual obligasi berdenominasi dolar AS juga menguat imbas dari data ketenagakerjaan AS bulan Mei yang tetap resilien. Faktor eksternal ini memperbesar potensi Federal Reserve mempertahankan suku bunga tinggi, yang kemudian membuat investor meminta premi risiko lebih besar untuk aset negara berkembang.