Bayan Resources Buka Suara Soal Rumor Akuisisi Saham oleh Haji Isam
Lonjakan harga saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) hingga 44 persen dalam dua hari terakhir memicu spekulasi pasar terkait rumor akuisisi oleh pemilik Jhonlin Group, Andi Syamsuddin Arsyad atau Haji Isam. Perseroan menyatakan belum menerima informasi mengenai rencana akuisisi 62,2 persen saham BYAN tersebut pada Selasa (18/8/2026).
Sekretaris Perusahaan PT Bayan Resources Tbk, Jenny Quantero, mengonfirmasi bahwa pihak manajemen tidak mengetahui adanya potensi transaksi yang melibatkan taipan asal Batulicin itu. Meski demikian, sikap terbuka tetap ditunjukkan oleh pemegang saham pengendali terhadap para calon investor.
"Pemegang saham pengendali perseroan telah menyampaikan kepada kami bahwa dari waktu ke waktu, sebagai investor mereka dapat saja mempertimbangkan berbagai kesempatan dan peluang untuk memaksimalkan investasi mereka di perseroan," kata Jenny Quantero, Corporate Secretary PT Bayan Resources Tbk.
Hingga penjelasan resmi disampaikan ke Bursa Efek Indonesia, perseroan belum dapat memverifikasi kebenaran isu pengambilalihan saham yang menghubungkan pihak pengendali dengan Haji Isam.
Struktur kepemilikan saham pengendali BYAN saat ini dikuasai oleh Dato Low Tuck Kwong sebesar 40,25 persen atau 13,42 miliar saham. Sementara itu, putrinya Elaine Low memegang 22 persen atau 7,33 miliar saham, sehingga total kepemilikan keduanya mencapai 62,25 persen.
Kabar mengenai rencana pembelian saham mengemuka setelah beredarnya foto pertemuan antara Haji Isam dan Low Tuck Kwong. Namun, pertemuan dua tokoh tersebut diperkirakan membahas kerja sama proyek jalur kereta api di kawasan Kalimantan.
Penguatan tajam saham BYAN hingga menyentuh level Rp17.275 per lembar telah mendongkrak nilai kapitalisasi pasar perseroan menjadi Rp575,8 triliun dengan price-to-earning ratio (PER) 41 kali. Untuk mengambil alih 62 persen porsi saham pada tingkat harga saat ini, dana yang dibutuhkan diperkirakan mencapai sekitar Rp350 triliun.
Operasional utama emiten batu bara ini ditopang oleh fasilitas tambang di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur, dengan kontribusi terbesar berasal dari area Tabang di Kabupaten Kutai Kartanegara yang menyumbang 80 persen dari total produksi perseroan.