Pemerintah Alokasikan Rp650 Triliun untuk Bunga Utang pada RAPBN 2027

Share

Pemerintah Indonesia mengalokasikan anggaran pembayaran bunga utang sebesar Rp650,31 triliun dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027 yang diajukan Presiden Prabowo Subianto ke DPR RI pada pertengahan Agustus 2026. Alokasi tersebut setara dengan Rp1,78 triliun per hari untuk memenuhi kewajiban pembiayaan negara.

Nilai pembayaran bunga utang pada 2027 mengalami kenaikan 11,7 persen jika dibandingkan dengan perkiraan atau outlook tahun 2026 yang sebesar Rp582,24 triliun. Secara rinci, alokasi tersebut terdiri dari pembayaran bunga utang dalam negeri sebesar Rp589,68 triliun dan bunga utang luar negeri sebesar Rp60,63 triliun.

Besarnya beban bunga utang terjadi seiring langkah pemerintah menarik utang baru sebesar Rp876,27 triliun untuk menutup defisit anggaran RAPBN 2027 yang dirancang Rp671,16 triliun atau 2,40 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Penarikan utang baru ini dipenuhi melalui penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) neto sebesar Rp779,94 triliun dan pinjaman neto Rp96,33 triliun.

Meskipun nominal bunga utang meningkat, kinerja fiskal menunjukkan perbaikan pada defisit keseimbangan primer yang ditekan menjadi Rp20,85 triliun. Angka ini turun drastis dari perkiraan defisit keseimbangan primer tahun 2026 yang mencapai Rp152,08 triliun, sehingga pemerintah hampir tidak lagi menarik utang baru sekadar untuk membayar bunga utang berjalan.

Pengelolaan pembiayaan utang tetap dihadapkan pada risiko fluktuasi suku bunga pasar dan pergerakan nilai tukar, di mana pemerintah memasang asumsi imbal hasil SBN 10 tahun sebesar 6,9 persen serta nilai tukar Rp17.500 per dolar AS dalam RAPBN 2027.

Presiden Prabowo Subianto menegaskan arah kebijakan fiskal pemerintah di tengah tantangan ketidakpastian kondisi ekonomi global.

"Kita memasuki tahun 2026 dalam keadaan dunia yang tidak menentu, yang tidak mudah. Harga energi di seluruh dunia meningkat karena perang, suku bunga global tinggi dan bisa naik, nilai tukar berbagai negara tertekan, dan ketegangan geopolitik mengganggu perdagangan dunia," ujar Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia.

Ia menekankan komitmen pemerintah untuk tetap menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dengan kehati-hatian anggaran negara.

"Kita tidak memilih antara pertumbuhan dan kehati-hatian. Kita memilih kedua-duanya. Kita tidak memilih antara membantu rakyat dan menjaga APBN. Kita melakukan keduanya," kata Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia.

Dalam RAPBN 2027, total belanja negara dirancang mencapai Rp4.097,2 triliun dengan target pendapatan negara sebesar Rp3.426 triliun. Penggabungan anggaran bunga utang sebesar Rp650,31 triliun dan subsidi Rp387,89 triliun mencapai Rp1.038,2 triliun, atau memakan porsi 25,3 persen dari total belanja negara.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
danto-wijaya-kusuma
Author