WHO Peringatkan Lonjakan Wabah Ebola di Kongo dan Uganda
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan kekhawatiran mendalam atas kecepatan penyebaran wabah virus Ebola berbahaya di Republik Demokratik Kongo (DRC) dan Uganda pada Selasa setelah jumlah korban meninggal mencapai 131 orang.
Krisis kesehatan ini dipicu oleh virus jenis Bundibugyo yang telah menginfeksi lebih dari 500 kasus suspect di wilayah timur laut DRC yang terpencil serta mulai melintasi perbatasan hingga mencapai ibu kota Uganda, Kampala.
Menteri Kesehatan Kongo Dr. Samuel Roger Kamba mengonfirmasi total kematian tersebut, sementara Direktur Jenderal WHO Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus melaporkan bahwa 30 kasus kini telah terkonfirmasi di Provinsi Ituri.
"deeply concerned about the scale and speed" kata Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal WHO.
Tedros menambahkan bahwa wilayah Ituri mengalami masalah keamanan serius akibat eskalasi konflik bersenjata sejak akhir tahun 2025 yang memicu perpindahan lebih dari 100.000 warga sipil.
"Conflict has intensified since late 2025, and fighting has escalated significantly over the past two months, resulting in civilian deaths," ujar Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal WHO.
Menurut WHO, pergerakan populasi yang tinggi di tengah konflik bersenjata berpotensi besar meningkatkan risiko perluasan area penularan virus.
"high levels of population movement" tambah Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal WHO.
Kondisi di lapangan dipersulit oleh krisis gizi buruk akut serta pemotongan bantuan kemanusiaan yang menghambat penanganan medis di zona konflik Kongo timur.
"already heavily affected by conflict and where humanitarian assistance remains insufficient due to lack of resources." kata Philippe Guiton, Direktur Nasional World Vision di DRC.
Hambatan pemulihan kesehatan di area terpencil juga diperparah oleh minimnya akses fasilitas kesehatan masyarakat.
"Ituri is already facing an alarming situation of acute malnutrition, which further weakens people’s immune systems, combined with extremely limited access to healthcare in remote areas." kata David Munkley, Direktur Zona Timur World Vision.
Merespons situasi geografis tersebut, pemerintah Amerika Serikat turut memantau perkembangan geografis wilayah persebaran virus yang berada di area konflik rural.
"It’s in a rural area, so it’s kind of confined in a hard to get to place in a war-torn country, unfortunately," kata Marco Rubio, Sekretaris Negara AS.
Sejumlah pakar kesehatan menilai jumlah kasus riil di lapangan kemungkinan jauh lebih masif daripada data resmi yang berhasil dihimpun otoritas setempat.
"I’ve been saying the most concerning thing to me has been how much we learned, how quickly we learned it," kata Craig Spencer, dokter penyintas Ebola tahun 2014.
Spencer menyatakan keraguan terhadap data pelaporan yang ada karena kondisi pelacakan awal yang dinilai lambat.
"There’s no doubt that this is probably much worse than what we think right now. I suspect the true case total is much higher than what’s being reported." tambah Craig Spencer, dokter penyintas Ebola tahun 2014.
Pemerintah AS kini telah menerapkan undang-undang kesehatan masyarakat untuk membatasi masuknya pelaku perjalanan dari wilayah terdampak setelah satu warga negaranya teruji positif Ebola di DRC.
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika (Africa CDC) mengkritik kebijakan pembatasan tersebut karena dinilai dapat mengganggu stabilitas ekonomi dan kehidupan masyarakat lokal.
"broad travel bans can disrupt lives and economies." kata perwakilan Africa CDC.
Berdasarkan kronologi data WHO, kasus suspect pertama menimpa seorang tenaga kesehatan yang mengalami gejala pada 24 April sebelum akhirnya meninggal dunia di pusat medis wilayah Bunia.