Vale Indonesia Siap Revisi RKAB Demi Smelter Hidrometalurgi
PT Vale Indonesia Tbk (INCO) mematangkan persiapan untuk mengajukan revisi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 kepada Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Langkah strategis ini dilakukan di Jakarta pada Rabu (3/6/2026) guna menyesuaikan kebutuhan pasokan bijih nikel untuk proyek smelter hidrometalurgi berteknologi high pressure acid leach (HPAL).
Kesiapan korporasi tersebut dilakukan seiring dengan hampir selesainya pembangunan beberapa pabrik HPAL milik perseroan. Keterangan kesiapan ini dilansir dari Bloomberg Technoz yang menghimpun informasi langsung dari manajemen puncak perusahaan dalam komitmen hilirisasi nikel mereka.
"Udah siap, kita tinggal masukin. Ya pokoknya udah siap aja," kata Presiden Direktur INCO Bernadus Irmanto, kepada awak media di sela Indonesia Critical Mineral Conference, Rabu (3/6/2026).
Pihak manajemen menjelaskan bahwa pengajuan revisi ini masih harus menunggu pembukaan resmi dari pihak regulator. Jadwal pengajuan revisi tersebut biasanya mulai dibuka oleh kementerian terkait pada pertengahan tahun berjalan.
"Kalau peraturan yang sekarang ada kan Juli, kecuali ada peraturan baru. Kita tunggu ajalah," lanjut Bernadus Irmanto.
Revisi ini mendesak dilakukan karena kuota produksi yang disetujui sebelumnya berada di bawah target awal perusahaan. Kementerian ESDM memberikan kuota produksi 2026 untuk tambang Bahodopi sebesar 2,31 juta ton, padahal rencana awal perusahaan mencapai 8,8 juta ton.
Meskipun terpangkas signifikan dari rencana awal, kuota produksi tambang Bahodopi tersebut masih lebih tinggi dibandingkan realisasi produksi tahun 2025 yang mencatatkan angka 2,01 juta ton. Penurunan alokasi kuota juga terjadi pada tambang nikel Pomalaa yang hanya disetujui sebesar 5,8 juta ton dari usulan awal sebesar 18,06 juta ton.
Kondisi ini memicu defisit pasokan karena proyek smelter di Pomalaa ditargetkan rampung pada Agustus 2026 dengan kebutuhan pasokan bijih nikel mencapai 7 juta ton sepanjang tahun. Akibatnya, terdapat selisih besar antara volume produksi yang mendapat persetujuan pemerintah dengan kebutuhan operasional fasilitas pengolahan baru tersebut.
"Di Pomalaa kita mengusulkan 18 juta ton, yang disetujui adalah 5,8 juta ton. Jadi kalau Bapak Ibu bisa lihat, di Pomalaa seperti yang tadi saya jelaskan rencananya pabrik itu sudah mulai terbangun atau sudah mulai beroperasi di bulan Agustus. Jadi kalau pabrik sudah mulai beroperasi, artinya sebelum Agustus sudah ada stockpile, sudah harus ada produksi," kata Bernadus dalam RDP di Komisi XII DPR, medio April.
Kesenjangan kuota ini menjadi landasan utama bagi emiten tambang tersebut untuk mengajukan perubahan rencana kerja penambangan kepada otoritas ESDM. Kekurangan pasokan dinilai dapat mengganggu target operasi awal dari komersialisasi hilirisasi nikel tersebut.
"Jadi kalau Bapak Ibu lihat, ada selisih antara apa yang diperlukan dengan apa yang sudah di-approve baik di Pomalaa dan di Bahodopi," tegas Bernadus Irmanto.
Untuk target pengapalan nikel matte dari Sorowako, emiten berkode saham INCO ini mematok angka 67.645 ton pada 2026. Target tersebut mengalami penurunan sebesar 6% dari realisasi tahun 2025 yang menembus 72.027 ton akibat adanya agenda pemeliharaan berkala pada fasilitas tungku peleburan.
Data internal per April 2026 menunjukkan proyek Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa menelan investasi terbesar hingga US$4,5 miliar lewat kemitraan dengan Ford dan Huayou. Konstruksi pabrik HPAL Pomalaa kini menyentuh 65%, sektor tambang 72%, dan dijadwalkan memproduksi 120.000 ton mixed hydroxide precipitate (MHP) per tahun mulai Agustus 2026 setelah melakukan penjualan bijih pertama pada 28 Februari 2026.
Sementara itu, proyek IGP Morowali di Blok Bahodopi seluas 22.699 hektare telah memulai operasi sektor tambang fase 1 sejak kuartal I-2025 dengan catatan penjualan 2,2 juta ton bijih pada awal 2026. Pabrik HPAL hasil kemitraan dengan GEM dan EcoPro berkapasitas 66.000 ton MHP per tahun di Morowali telah mencapai progres 27% dan ditargetkan beroperasi tahun ini.
Di Sulawesi Selatan, pembangunan sektor tambang proyek IGP Sorowako Limonite seluas 70.566 hektare bersama Huayou telah mencapai 42% dan pabrik HPAL menyentuh 18%. Fasilitas Sorowako dirancang memiliki kapasitas produksi 60.000 ton MHP per tahun dengan target operasional penuh pada tahun 2027.