Vale Indonesia Bersiap Hadapi Fluktuasi Siklikal Harga Nikel Global

Share

PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) bersiap mengantisipasi potensi koreksi harga nikel global di tengah lonjakan harga logam dasar akibat pengetatan pasokan dan penguatan permintaan pasar pada Senin (8/6/2026).

Lonjakan harga nikel saat ini dipengaruhi oleh persepsi pelaku pasar terhadap keterbatasan suplai dunia, meskipun komoditas ini memiliki riwayat pergerakan harga yang bersifat siklikal, dilansir dari Bloomberg Technoz.

Manajemen perusahaan mengakui bahwa batas atas penguatan maupun potensi penurunan harga komoditas tambang tersebut saat ini sangat sulit diprediksi secara akurat.

"Ilmu dasarnya kan supply demand-nya. Mungkin sekarang lagi tight, karena dalam tanda kutip 'demand-nya lagi menguat atau suplainya lagi ketat', atau persepsi atas demand dan supply lagi menyebabkan harga naik," kata Bernardus Irmanto, Presiden Direktur Vale Indonesia.

Perusahaan bersiap melakukan penyesuaian operasional yang diperlukan guna merespons kondisi pasar yang dinamis tersebut.

" + ""Ya, pasti akan nanti ada penyesuaian-penyesuaian [yang akan dilakukan perseroan]. Namun, seperti apa ya? Tergantung. Never know lah. One billion dollar question,"" + " lanjut Bernardus Irmanto.

Meskipun pasar bergejolak, korporasi tetap berkomitmen melanjutkan agenda investasi strategis yang telah direncanakan sebelumnya.

"Ya sudah, kalau kita percaya bahwa nikel adalah mineral masa depan, dan buat Vale kita percaya itu, ya sudah. Semua investasi strategis yang kita lakukan, kita gas," tegas Bernardus Irmanto.

Di sisi lain, lembaga keuangan HSBC Holdings Plc. menilai pasar logam dasar sedang berada dalam fase tekanan pasokan berat akibat gangguan logistik global.

"Makin lama selat ditutup, makin menipis persediaan, makin besar pula kemungkinan kita mencapai 'titik kritis' di pasar untuk beberapa komoditas," kata Paul Bloxham, analis HSBC Holdings Plc.

Tekanan geopolitik di Timur Tengah dan penutupan jalur laut strategis menjadi pemicu utama penurunan kapasitas produksi komoditas tersebut.

"Siklus komoditas secara keseluruhan tetap dalam fase yang disebut “super bull”, tetapi “ini sangat berbeda dengan ‘supercycle’ sebelumnya, karena didorong oleh gangguan pasokan,” kata analis HSBC Holdings Plc.

Para analis menambahkan bahwa kelangkaan pasokan ini lebih tepat disebut sebagai fase pengetatan ekstrem daripada siklus pertumbuhan ekonomi jangka panjang.

"Alih-alih ‘supercycle’, kami menyebutnya ‘super squeeze’," kata analis HSBC Holdings Plc.

Kondisi ini tecermin dari harga tembaga yang menyentuh angka US$13.976 per ton, sedangkan harga aluminium melonjak ke level tertinggi dalam empat tahun terakhir.

"Untuk aluminium, "kisah permintaan strukturalnya positif, tetapi pendorong utama belakangan ini adalah kerusakan kapasitas peleburan di Timur Tengah,"" + " kata analis HSBC Holdings Plc.

Kenaikan harga pada instrumen logam lainnya juga terus dipantau karena mendapat dorongan kuat dari sektor konsumsi.

"Kenaikan harga tembaga terutama didorong oleh permintaan," kata analis HSBC Holdings Plc.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan kuota produksi bijih nikel dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 untuk tambang Bahodopi milik Vale sebesar 2,31 juta ton.

Angka tersebut turun 74 persen dari target awal sebesar 8,8 juta ton, meski masih lebih tinggi dari realisasi tahun 2025 yang mencatatkan angka 2,01 juta ton.

Sementara itu, alokasi produksi untuk tambang Pomalaa pada tahun ini dipatok sebesar 5,8 juta ton, merosot dari target awal sebesar 18,06 juta ton.

Untuk komoditas nikel matte dari Sorowako, Vale menargetkan volume produksi sebesar 67.645 ton, atau menyusut 6 persen dari capaian tahun lalu sebesar 72.027 ton akibat adanya perbaikan tungku peleburan.

Secara nasional, Kementerian ESDM mencatat total produksi bijih nikel Indonesia sepanjang tahun 2025 mencapai 320,37 juta ton, dengan rincian feronikel sebanyak 579.430 ton dan nikel matte sebesar 91.500 ton.

Kebijakan pengetatan kuota RKAB 2026 menjadi 260 hingga 270 juta ton, pembaruan formula harga patokan mineral, serta rencana penyesuaian tarif royalti menjadi faktor penguat harga nikel di pasar internasional.

Di LME, harga nikel dibuka pada level US$18.581 per ton pada perdagangan Senin pagi, mengalami koreksi tipis sebesar 0,58 persen dibandingkan hari sebelumnya.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
annisa-nur-fadhilah
Author