Utang Nasional Amerika Serikat Tembus 40 Triliun Dollar

Share

Utang nasional bruto Amerika Serikat melonjak melampaui angka 40 triliun dollar AS atau sekitar Rp711 kuadriliun untuk pertama kalinya sepanjang sejarah. Data resmi Departemen Keuangan AS mencatat total utang publik beredar menyentuh 40,05 triliun dollar AS pada penutupan perdagangan Selasa (18/8/2026).

Angka pinjaman tersebut melampaui estimasi awal Congressional Budget Office yang memproyeksikan utang AS baru mencapai 39,4 triliun dollar AS pada akhir tahun fiskal 2026. Lonjakan utang dipicu oleh lonjakan beban pembayaran bunga, pembengkakan kewajiban jaminan sosial, serta belanja pemerintah untuk membiayai perang dan kebijakan pemotongan pajak.

Kondisi ini memperberat posisi pembiayaan pemerintah di tengah kekhawatiran investor terhadap inflasi dan konflik di Timur Tengah. Imbal hasil obligasi Treasury AS jangka panjang sempat melonjak ke level tertinggi sejak 2007 pada Selasa, sebelum akhirnya mereda setelah Departemen Keuangan mengambil langkah penstabilan pasar pada Rabu pagi.

Peneliti bidang anggaran dan pajak di Brookings Institution, Jessica Riedl, memberikan analisis mengenai tren anggaran pemerintah federal yang terus mengalami pembengkakan defisit.

"Sudah lama diketahui bahwa pemerintah Amerika Serikat berada pada jalur defisit yang cukup tidak berkelanjutan," ujar Jessica Riedl, peneliti di Brookings Institution.

Riedl menjelaskan bahwa beban keuangan terus bertambah akibat lonjakan suku bunga akibat inflasi serta belanja untuk populasi yang menua.

"Dalam beberapa tahun terakhir, Amerika Serikat telah mencatat defisit sekitar USD 2 triliun, bahkan di masa damai dan makmur," kata Riedl.

Tingkat defisit AS yang sebelumnya berada di angka 3 hingga 4 persen dari produk domestik bruto kini telah bergeser naik ke kisaran 6 hingga 7 persen dari PDB.

"Hal itu membuat pasar menjadi lebih cemas," ungkap Riedl.

Peningkatan rasio utang ini menjadi penanda krusial bagi para pelaku pasar keuangan global untuk memantau keberlanjutan fiskal AS.

"Kondisi itu membuat pasar semakin gugup," kata Riedl.

"Namun secara psikologis, angka-angka ini merupakan penanda yang memperingatkan pasar keuangan untuk mencermati kembali peningkatan utang tersebut," ujar Riedl.

Pemerintah AS kini terpaksa melakukan refinancing atau pembiayaan kembali utang-utangnya dengan tingkat suku bunga tertinggi sejak periode sebelum krisis keuangan global 2008.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
gilang-permana-putra
Author