Utang Luar Negeri Indonesia dalam Denominasi Yuan Cetak Rekor
Bank Indonesia melaporkan posisi utang luar negeri Indonesia dalam denominasi yuan China melonjak hingga menembus rekor tertinggi sebesar US$17,24 miliar pada April 2026. Lonjakan instrumen mata uang ini terjadi di tengah penurunan nominal utang berdasarkan negara kreditur dari Amerika Serikat dan China. Statistik Utang Luar Negeri Indonesia edisi Juni 2026 mencatat total utang luar negeri Indonesia pada April 2026 mencapai US$439,7 miliar atau tumbuh 1,9 persen secara tahunan.
Nilai akumulasi tersebut setara dengan Rp7.773,9 triliun dengan menggunakan asumsi kurs Rp17.680 per dolar AS. Secara bulanan, denominasi yuan China bertambah sekitar US$248 juta atau naik 1,46 persen dibandingkan Maret 2026 yang sebesar US$16,99 miliar. Penguatan ekosistem mata uang ini berjalan seiring dengan peningkatan kerja sama keuangan bilateral antara Bank Indonesia dan People's Bank of China.
Kedua bank sentral tersebut telah menggelar High Level Meeting Joint Work Program di Shanghai pada Rabu (11/6/2026). Pertemuan tingkat tinggi ini bertujuan menguatkan kerja sama Local Currency Transaction, penjajakan Bilateral Currency Swap Agreement, hingga pembentukan Renminbi Clearing Arrangement di Indonesia.
Implementasi pembayaran QR lintas batas serta bergabungnya Bank Mandiri dalam Cross-border Interbank Payment System turut diluncurkan untuk efisiensi transaksi kedua negara. Di sisi lain, utang luar negeri Indonesia berdasarkan negara asal kreditur dari Amerika Serikat dan China justru kompak menyusut. Posisi utang dari Amerika Serikat turun tipis 0,11 persen secara bulanan menjadi US$27,99 miliar pada April 2026. Sementara itu, pinjaman dari China secara negara kreditur berkurang 0,74 persen secara bulanan menjadi US$25,43 miliar pada April 2026.
Meskipun mengalami penurunan, posisi utang Indonesia dari Amerika Serikat masih lebih besar ketimbang China dengan selisih mencapai US$2,56 miliar atau sekitar Rp45,26 triliun. Pembiayaan dari China selama ini didominasi sektor infrastruktur dan energi, sedangkan Amerika Serikat lebih banyak bergerak di pasar keuangan dan teknologi.