Dokter Ungkap Usia Ideal Perempuan Jalani Prosedur Egg Freezing
Prosedur pembekuan sel telur atau egg freezing kembali menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat. Tindakan medis ini jamak dipilih oleh kaum perempuan guna memelihara peluang kehamilan di masa mendatang.
Langkah ini umumnya diambil oleh mereka yang memutuskan menunda memiliki momongan karena urusan karier, belum menemukan pasangan hidup, ataupun karena faktor kesehatan tertentu. Tren ini juga diikuti oleh sejumlah figur publik di Indonesia seperti Luna Maya, Olla Ramlan, Dewi Perssik, hingga Sabrina Chairunnisa.
Dilansir dari Detik Health, Spesialis Obstetri dan Ginekologi, Subspesialis Fertilitas Endokrinologi Reproduksi (KFER) dari Brawijaya Hospital Antasari, dr M Luky Satria Syahbana Marwali, SpOG, SubspKFER, memberikan penjelasan terkait batasan usia yang paling tepat untuk melakukan tindakan tersebut.
Menurut penjelasan dr Luky, faktor usia memegang peranan yang sangat krusial dalam menentukan hasil akhir dari proses pembekuan sel telur. Batasan usia di bawah 35 tahun menjadi periode terbaik karena memengaruhi tingkat keberhasilan kehamilan serta jumlah sel telur yang dapat dipanen.
Perempuan yang melakukan egg freezing sebelum menginjak usia 35 tahun umumnya memiliki kualitas sel telur yang masih sangat prima. Kondisi ini membuat jumlah sel telur yang perlu dikumpulkan menjadi tidak terlalu banyak.
"Kembali lagi, lebih baik usia di bawah 35 tahun," ujar dr Luky saat diwawancarai detikcom, Senin (25/5/2026).
"Jadi, kalau misalnya dia usianya itu di bawah 35 ya, itu dia cukup mengumpulkan telur antara 15 sampai 20 telur untuk kemungkinan keberhasilan kehamilan bisa sampai 80 persen," jelasnya.
Tingkat keberhasilan tersebut bahkan bisa menyentuh angka 80 hingga 90 persen untuk menghasilkan satu bayi apabila kualitas sel telur yang didapatkan tergolong sangat baik.
Tantangan Medis pada Usia Kepala Empat
Situasi sebaliknya akan dihadapi oleh perempuan yang baru merencanakan pembekuan sel telur saat memasuki usia matang. Dokter Luky mengingatkan adanya tantangan biologis yang jauh lebih berat ketika prosedur ini dilakukan pada usia 40 tahun ke atas.
Secara medis, penurunan kualitas sel telur seiring bertambahnya usia berbanding terbalik dengan kebutuhan jumlah penyimpanan. Semakin tua usia pasien, sel telur yang berhasil didapat melalui proses stimulasi hormon justru akan semakin sedikit.
"Sementara kalau misalnya usianya di atas itu, misalnya 40 atau segala macem, waduh, itu telurnya memang dikumpulin banyak banget. Lebih dari 20, bisa 30, bisa 40 telur," wanti-wanti dr Luky.
"Jadi, kalau misalnya umurnya 40, saya udah egg freezing nih, berapa telurnya (yang didapat)? Lima, sepuluh. Kurang banget. Itu usianya mungkin (butuh) 30 atau 40 telur, gitu," tambah dr Luky.
Keterbatasan jumlah sel telur yang diperoleh dalam satu kali proses memaksa pasien di usia matang untuk melakukan tindakan medis secara berulang demi mencapai kuota aman.
"Apalagi, semakin tua, semakin tua mungkin lebih banyak telur yang disimpan. Sementara, semakin tua telur yang didapat mungkin sedikit. Jadi, dia harus ngulang stimulasi beberapa kali sampai mengumpulkan telur yang cukup," kata dr Luky.