Ubisoft Catat Kerugian Operasional Hingga Rp 26 Triliun

Share

Perusahaan video game Ubisoft menghadapi situasi sulit dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi ini memaksa perusahaan mengambil keputusan strategis demi masa depan bisnis mereka.

Langkah sulit yang telah diambil meliputi restrukturisasi karyawan hingga pembatalan berbagai proyek video game. Seperti dilansir dari Gamebrott, laporan keuangan terbaru menunjukkan angka kerugian yang sangat besar.

Ubisoft melaporkan kerugian operasional pada tahun fiskal 2025-2026 mencapai €1,3 Miliar atau sekitar Rp 26,72 Triliun. Selain itu, net booking perusahaan juga anjlok sebesar 17,4% menjadi €1,53 Miliar atau sekitar Rp 30,84 Triliun.

Kemunduran finansial pada perusahaan pembuat game Assassin’s Creed ini dipicu oleh berbagai faktor. Jadwal perilisan game yang sepi dan performa penjualan di bawah ekspektasi menjadi penyebab utama.

Faktor lain yang memperburuk keadaan adalah penundaan berbagai proyek game besar. Biaya yang tinggi dalam proses restrukturisasi internal juga turut menekan kondisi keuangan perusahaan.

Guna mengatasi krisis ini, Ubisoft melakukan pengurangan skala perusahaan secara besar-besaran. Mereka menghentikan beberapa proyek game yang sedang dikembangkan dan menutup studio game.

Ubisoft juga melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap lebih dari 1000 karyawan dalam setahun terakhir. Langkah ini berhasil memangkas biaya tetap sebesar €118 Juta atau sekitar Rp 2,42 Triliun, turun 8% dari tahun lalu.

Strategi Kebangkitan Melalui Franchise Besar

Tahun ini diperkirakan menjadi titik terendah bagi arus keuangan perusahaan. Penjualan Ubisoft diprediksi masih akan turun sekitar 8 hingga 9% karena sebagian besar game utama baru siap rilis sekitar 3 tahun lagi.

Perbaikan arus keuangan secara positif diprediksi baru bisa terealisasi pada tahun fiskal 2026-2027. Ubisoft berencana membangkitkan franchise-franchise game besar mereka seperti Assassin’s Creed, Far Cry, dan Ghost Recon.

Manajemen berkomitmen meningkatkan standar kualitas game dan mulai memanfaatkan teknologi AI untuk mengoptimalkan proses pengembangan. Perilisan Assassin’s Creed Black Flag Resynced pada Juli 2026 diharapkan menjadi awal kebangkitan perusahaan.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
sheila-amara-zahra
Author