Donald Trump Sebut Gencatan Senjata Berakhir dan Kecam Pemerintah Iran
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan bahwa kesepakatan gencatan senjata dengan Iran telah berakhir. Hubungan kedua negara kembali memanas setelah terjadi aksi saling serang di kawasan Teluk.
Dilansir dari Detikcom, pernyataan tersebut disampaikan Trump menjelang KTT NATO di Turki. Trump menilai kelanjutan perundingan oleh negosiator Amerika Serikat sebagai tindakan yang sia-sia.
"Saya pikir ini sudah berakhir. Saya tidak ingin berurusan dengan mereka lagi. Mereka itu sampah … mereka dipimpin oleh orang-orang yang sakit dan mereka adalah orang-orang yang kejam serta penuh kekerasan," kata Trump.
"Kami membuat kesepakatan. Mereka [Iran] keluar, berbicara kepada pers, lalu mengatakan, 'kami bahkan tidak pernah membicarakannya'. Ada yang tidak beres dengan mereka.
Mereka gila. Bagi saya, ini sudah berakhir."
Eskalasi terbaru ini dipicu oleh serangan terhadap tiga kapal tanker minyak di Selat Hormuz. Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengumumkan telah menggempur lebih dari 80 target, termasuk 60 kapal cepat milik Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Media pemerintah Iran melaporkan serangan tersebut menghantam wilayah Bandar Abbas dan Sirik, serta menyebabkan beberapa warga terluka akibat serpihan ledakan. Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan ke fasilitas militer Amerika Serikat di Bahrain dan Kuwait.
Menanggapi situasi ini, Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte menilai tindakan militer Amerika Serikat sangat diperlukan. Rutte menuduh Iran telah melanggar kesepakatan gencatan senjata sebelumnya.
Sebaliknya, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menegaskan bahwa Amerika Serikat yang melanggar nota kesepahaman (MoU). Menurutnya, pihak Amerika Serikat telah mengganggu penyesuaian yang dilakukan Iran di Selat Hormuz.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menuduh Amerika Serikat melakukan pelanggaran terang-terangan terhadap MoU yang ditandatangani pada 17 Juni 2026. Menurutnya, serangan terbaru dan pemberlakuan kembali sanksi minyak membuat poin penting kesepakatan menjadi tidak efektif.
"Pasukan angkatan laut dan kedirgantaraan Korps Garda Revolusi Islam, dalam operasi gabungan rudal dan drone, menyerang 85 instalasi militer utama Amerika di Pelabuhan Salman, wilayah Armada Kelima AS di Bahrain," demikian pernyataan IRGC.
Iran juga mengklaim telah menyerang Pangkalan Udara Ali Al Salem di Kuwait. Serangan itu disebut sebagai respons atas operasi militer Amerika Serikat yang menghantam fasilitas sipil dan pangkalan pesisir di Provinsi Hormozgan dan Mahshahr.
Akibat serangan tersebut, Kementerian Dalam Negeri Bahrain mengaktifkan sirene peringatan bagi masyarakat. Pihak berwenang belum memberikan informasi resmi mengenai tingkat kerusakan maupun korban jiwa.
Ketegangan Jalur Logistik Selat Hormuz
Konflik ini memicu kekhawatiran terkait kelancaran pelayaran di Selat Hormuz, yang mengalirkan seperlima pasokan minyak dunia. Dampaknya, harga minyak mentah Brent langsung melonjak lebih dari 3% ke level US$76 per barel.
Kementerian Luar Negeri Kuwait mengecam keras tindakan militer Iran dan menyebutnya sebagai agresi yang merusak upaya penurunan eskalasi konflik di tingkat regional.
Sementara itu, Qatar dan Arab Saudi melaporkan bahwa kapal komersial mereka, yaitu Al-Rekayyat dan Wadyan, turut menjadi sasaran gangguan saat melintasi jalur perairan strategis tersebut.