Donald Trump Buka Peluang Temui Pemimpin Tertinggi Iran

Share

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump membuka peluang untuk mengadakan pertemuan dengan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei apabila kesepakatan antara kedua negara berhasil dicapai. Keputusan ini disampaikan di tengah upaya kedua pihak mengubah gencatan senjata menjadi kesepakatan yang lebih luas, dilansir dari Detikcom pada Jumat (5/6/2026).

Rencana pertemuan tersebut diutarakan langsung oleh Trump saat merespons pertanyaan para jurnalis mengenai potensi diplomasi tingkat tinggi dengan Teheran. Sikap ini menandai babak baru setelah konflik bersenjata berskala besar yang melibatkan kedua negara sejak akhir Februari lalu.

"Saya tidak ingin bertemu, tetapi jika saya bertemu, saya akan merasa terhormat untuk bertemu dengannya," kata Trump ketika ditanya oleh wartawan tentang kemungkinan pertemuan dengan pemimpin tertinggi Iran tersebut, seperti dilansir Anadolu Agency, Jumat (5/6/2026).

Peluang pertemuan tatap muka tersebut bergantung sepenuhnya pada hasil negosiasi kesepakatan formal yang sedang berjalan. Trump menegaskan komitmennya untuk melihat perkembangan dari proses negosiasi tersebut terlebih dahulu.

"Saya ingin melihat apakah kita mencapai kesepakatan, tetapi jika kita telah mencapai kesepakatan, ada kemungkinan saya akan bertemu dengannya," cetus Presiden AS tersebut dalam wawancara dengan wartawan pada Kamis (4/6) waktu setempat.

Mengenai lokasi pelaksanaan pertemuan potensial tersebut, Washington belum memberikan kepastian apakah akan digelar di wilayah Amerika Serikat. Trump mengaku telah mendengar adanya usulan mengenai lokasi itu dari beberapa pihak.

"Saya belum banyak mendengar tentang hal itu. Saya tidak menyarankan itu, tetapi beberapa orang telah menyarankan demikian," berkata Trump.

Hubungan kedua negara memanas setelah Ayatollah Mojtaba Khamenei naik jabatan menggantikan ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, yang tewas akibat serangan udara AS dan Israel. Kendati memegang kekuasaan tertinggi, Mojtaba dilaporkan terluka dalam serangan itu dan belum pernah tampil di publik.

Di sisi lain, Trump juga menegaskan posisi militer Washington di kawasan Timur Tengah. Ia menyatakan kesiapan untuk mengambil tindakan militer responsif jika pihak Iran kembali melancarkan serangan yang menewaskan personel militer Amerika Serikat.

"Itu akan menjadi alasan yang bagus. Jujur saya, jika mereka membunuh tentara-tentara AS, saya pikir saya akan melakukannya dengan sangat cepat," menjawab Trump.

Fokus utama dari kesepakatan yang diajukan oleh pemerintah AS bertumpu pada penghentian program senjata pemusnah massal. Trump menggarisbawahi bahwa pembatasan teknologi nuklir menjadi poin yang tidak dapat dinegosiasikan.

"Sejauh menyangkut Iran, Anda akan mengetahui apa kesepakatannya, tetapi bagian utama dari kesepakatan itu adalah mereka tidak boleh memiliki senjata nuklir," tegas Trump.

Selain isu nuklir, pemulihan jalur perdagangan internasional di Selat Hormuz menjadi agenda mendesak bagi stabilitas ekonomi global. Berdasarkan laporan terkini, pasukan AS telah dikerahkan untuk membersihkan ranjau laut yang mengganggu jalur logistik tersebut.

"Selat itu akan segera dibuka, Anda tahu, akan segera dibuka, dan kami sebagian besar telah melakukan penyapuan ranjau," ucap Trump, menambahkan bahwa AS memiliki kemampuan penyapuan ranjau bawah laut yang canggih.

Ketegangan antara Washington dan Teheran sebelumnya memuncak pada 28 Februari setelah perlintasan Selat Hormuz dibatasi oleh Iran. Kebijakan pembatasan tersebut diterapkan sebagai balasan atas serangan rudal dan drone yang menargetkan aset-aset militer AS di kawasan Teluk.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
bram-adhitya-santoso
Author