Donald Trump Batalkan Rencana Serangan Militer Amerika Serikat ke Iran

Share

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mendadak menarik kembali ancaman serangan militer terhadap Iran pada Kamis (11/6/2026) sore waktu setempat, setelah pasukan Amerika Serikat membombardir negara tersebut dengan serangan udara selama dua hari berturut-turut, dilansir dari Bloombergtechnoz.

Langkah drastis ini membalikkan pernyataannya pada Kamis pagi yang sempat bersumpah akan melanjutkan gempuran hari ketiga dan menyita infrastruktur minyak Iran. Namun, Trump kemudian mengumumkan pembatalan operasi melalui media sosial sembari mengeklaim bahwa kesepakatan damai sudah dekat.

Saat berbicara di Ruang Oval Gedung Putih, Trump menyebut penandatanganan kesepakatan berupa nota kesepahaman konseptual untuk membuka Selat Hormuz dan menghentikan program nuklir Teheran dapat berlangsung akhir pekan ini di Eropa.

"Ini adalah sesuatu yang pasti akan diselesaikan," ujar Trump.

Pihak Iran sendiri belum memberikan konfirmasi resmi mengenai klaim kesepakatan tersebut, bahkan kantor berita semi-pemerintah Iran, Fars, menyatakan para pejabat Teheran belum menyetujui draf teks apa pun dengan Amerika Serikat.

"Mereka sama-sama ingin menandatanganinya seperti halnya saya, atau bahkan mereka lebih menginginkannya," kata Trump.

Pernyataan optimis dari presiden Amerika Serikat tersebut langsung memicu reaksi cepat di pasar energi global, di mana harga minyak mentah dunia dilaporkan segera terjun bebas tidak lama setelah pengumuman disampaikan.

Minyak jenis West Texas Intermediate merosot hampir 3% menuju level US$85 per barel, sedangkan minyak Brent menetap di kisaran US$90 per barel, sementara pasar saham berbalik menguat.

Konflik yang telah memasuki bulan keempat ini semakin tidak populer di kalangan warga Amerika Serikat akibat lonjakan harga bahan bakar, meskipun sejumlah sumber diplomatik menyebut perundingan via mediator Qatar terus menunjukkan kemajuan.

Sebelumnya, Trump sempat menjanjikan pengerahan pasukan darat untuk mengambil alih Pulau Kharg yang menjadi pusat energi penting bagi Iran, namun ia segera meragukan kesiapan domestik atas opsi militer tersebut.

"tidak yakin Amerika memiliki selera untuk itu," ujar Trump dalam wawancara dengan Fox News.

Trump menambahkan bahwa operasi militer tersebut baru benar-benar tidak lagi menjadi opsi jika dokumen kesepakatan bilateral resmi ditandatangani kedua belah pihak di meja perundingan.

"Jika kita menandatangani kesepakatan ini, maka ya," kata Trump.

Terkait pengawasan wilayah perairan operasional di Timur Tengah, Trump menegaskan bahwa blokade angkatan laut Amerika Serikat akan tetap dipertahankan secara penuh.

"akan tetap diberlakukan sepenuhnya sampai transaksi ini selesai," ujar Trump melalui unggahan media sosialnya.

Situasi memanas setelah Iran menyatakan Selat Hormuz akan ditutup bagi semua kapal, bertolak belakang dengan klaim Trump bahwa militer Amerika Serikat mengendalikan penuh selat tersebut dan telah membantu mobilitas lebih dari 200 kapal komersial.

Hingga saat ini, perundingan masih terhambat tuntutan Teheran terkait pencairan miliaran dolar dana mereka yang dibekukan di Qatar, serta desakan Washington agar Iran menghancurkan persediaan uranium diperkaya tingkat tinggi mereka.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
rizka-amelia-kusuma
Author