Ekonom Sebut Transaksi Berjalan Defisit Akibat Penurunan Cadangan Devisa

Share

Penurunan cadangan devisa negara sebesar US$10 miliar dalam waktu empat bulan memicu tekanan pada transaksi berjalan dan Neraca Pembayaran Indonesia (NPI). Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede di Makassar pada Jumat (22/5/2026), dilansir dari Bloomberg Technoz.

Bank Indonesia mencatat defisit NPI pada kuartal I-2026 membengkak menjadi US$9,15 miliar dari kuartal sebelumnya sebesar US$6,07 miliar. Defisit juga terjadi pada transaksi berjalan senilai US$4 miliar atau setara 1,1% dari Produk Domestik Bruto, berbalik dari kondisi surplus US$2,5 miliar pada kuartal sebelumnya.

“Cadangan devisa kita empat bulan saja sudah turun US$10 miliar. Itu mencerminkan NPI kita sedang defisit,” kata Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede.

Kondisi transaksi berjalan dan NPI berpotensi memengaruhi penilaian lembaga pemeringkat global terhadap fundamental ekonomi domestik.

“Kalau kita lihat CAD kita, ini salah satu angka yang menunjukkan sebenarnya kondisi fundamental ekonomi kita,” tutur Josua Pardede.

Tekanan terhadap ekspor Indonesia dipengaruhi oleh perlambatan ekonomi dunia, lonjakan harga minyak mentah, serta kebijakan baru terkait badan ekspor di dalam negeri.

“Kalau investasi kita tidak jalan, ekspor kita cuma barang mentah saja, kita tidak akan bisa bersaing. Rupiah kita tidak akan bisa menguat banyak,” ujar Josua Pardede.

Program hilirisasi komoditas seperti nikel dan tembaga dinilai mulai memperlihatkan hasil positif bagi diversifikasi ekspor nasional.

“Sebelumnya kita hanya mengandalkan CPO dan batu bara. Sekarang mulai ada diversifikasi dan peningkatan nilai tambah,” tutur Josua Pardede.

Aliran modal asing dari investor portofolio masih sangat dibutuhkan untuk menyokong transaksi eksternal Indonesia yang sedang mengalami defisit.

“Kalau current account kita masih defisit, kita masih butuh foreign investor di pasar modal,” ucap Josua Pardede.

Lembaga pemeringkat seperti Moody's dan Fitch diproyeksikan akan mengevaluasi dampak kebijakan pemerintah serta Bank Indonesia dalam kurun waktu 12 hingga 18 bulan ke depan.

“Kalau terjadi pemburukan dan tidak ada perbaikan dalam 12 sampai 18 bulan ke depan, tentu akan ada assessment lagi kepada Indonesia,” jelas Josua Pardede.

Surplus pada transaksi modal dan finansial diperkirakan belum mampu menutup pelebaran defisit transaksi berjalan di sepanjang tahun ini.

“Tahun ini potensinya memang masih defisit NPI secara keseluruhan, karena current account memburuk sementara surplus financial account belum bisa menutupi,” kata Josua Pardede.

Pemerintah diharapkan mempercepat reformasi struktural guna mendorong daya saing ekspor dan menjaga keterbukaan informasi kebijakan.

“Yang lebih penting adalah mengatakan apa adanya dan menyelesaikan masalah bersama-sama,” imbuh Josua Pardede.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
yoga-prasetyo-nugroho
Author