Tidur Mulut Terbuka Memicu Perubahan Bentuk Wajah dan Rahang

Share

Kebiasaan tidur dengan posisi mulut ternganga secara berkala berisiko mengubah struktur tulang rahang dan estetika wajah. Dampak kesehatan ini terasa sangat nyata pada anak-anak yang masih dalam fase pertumbuhan. Kondisi tersebut tidak hanya memengaruhi keseimbangan otot muka, tetapi juga dapat mengubah susunan posisi lidah secara perlahan.

Informasi mengenai risiko gangguan ini dilansir dari Detik Health. Pada saat seseorang tertidur sambil membuka mulut, posisi lidah otomatis akan turun dari rongga atas. Keadaan ini menghilangkan tumpuan alami yang seharusnya menyokong rahang bagian atas.

Sebuah peninjauan ilmiah dalam jurnal BMC Oral Health mengungkapkan bahaya kebiasaan bernapas melalui mulut pada kelompok anak. Riset tersebut mencatat adanya pergeseran posisi rahang bawah ke arah belakang.

Selain bergeser ke belakang, rahang bawah anak juga cenderung berputar ke bawah. Fenomena ini memicu tingkat kecuraman bidang gigitan yang lebih tinggi dibandingkan anak berpenapasan normal. Perubahan struktur tubuh ini dapat berlanjut pada perubahan penampilan fisik bagian depan. Publikasi riset dalam jurnal Frontiers in Public Health menyoroti potensi pemanjangan ukuran wajah.

Anak-anak yang kerap bernapas lewat mulut menunjukkan pertumbuhan tinggi wajah bagian depan yang berlebihan. Hal tersebut membuat proporsi bentuk muka tampak kurang seimbang dan lebih memanjang. Hasil pengamatan berbasis teknologi pemindaian tiga dimensi (3D scanning) turut memperkuat temuan ini. Metode tersebut menemukan ketidakseimbangan pertumbuhan antara area wajah sisi kiri dan kanan.

Dampak buruk dari kebiasaan bernapas lewat mulut sebenarnya dapat diantisipasi sejak dini. Langkah awal yang terpenting adalah mengatasi penyumbatan pada saluran pernapasan hidung. Penyumbatan hidung umumnya dipicu oleh serangan alergi, flu, atau kelainan struktur septum yang bengkok.

Pemulihan fungsi hidung memungkinkan pola napas kembali berjalan secara normal. Pengaturan posisi tidur harian juga memegang peranan penting dalam mencegah tekanan berlebih. Biasakan untuk mengubah posisi tidur dan menghindari kebiasaan miring ke satu sisi saja.

Orang tua disarankan segera memeriksakan anak ke dokter spesialis THT atau dokter gigi anak. Pemeriksaan sejak dini sangat diperlukan apabila anak terus menerus tidur dengan mulut terbuka.

Konsultasi medis menjadi hal wajib jika kebiasaan ini disertai dengan dengkuran saat tidur. Adanya suara ngorok mengindikasikan gangguan pernapasan yang memerlukan penanganan profesional. Penanganan awal yang tepat mencegah dampak buruk kebiasaan tidur ternganga terbawa hingga dewasa. Menjaga pola napas hidung merupakan kunci utama mempertahankan keharmonisan struktur wajah.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
tiara-puspita-sari
Author