Lorie Logan Sebut The Fed Perlu Naikkan Suku Bunga
Kebijakan moneter Amerika Serikat berpotensi kembali mengetat setelah pejabat bank sentral mengisyaratkan perlunya kenaikan biaya pinjaman demi meredam tekanan harga yang membandel.
Gubernur Federal Reserve Bank of Dallas Lorie Logan menyatakan bahwa langkah menaikkan suku bunga acuan kemungkinan besar masih diperlukan pada akhir tahun ini agar inflasi dapat ditekan kembali menuju target awal sebesar 2%, seperti dilansir dari Bloombergtechnoz pada Kamis (04/06/2026).
Langkah pengetatan ini dipertimbangkan karena pasar tenaga kerja AS dinilai masih seimbang dan investasi kecerdasan buatan berkembang pesat, sementara inflasi belum menunjukkan tanda-tanda melandai secara konsisten.
"Kondisi-kondisi ini menunjukkan bahwa kebijakan moneter saat ini tidak menahan laju ekonomi," kata Logan pada Rabu dalam sebuah acara di El Paso, Texas.
Pernyataan tersebut mencerminkan kekhawatiran internal di kalangan pembuat kebijakan mengenai risiko inflasi yang telah melampaui target selama lebih dari lima tahun dan berpotensi mengalami percepatan kembali.
"Saya semakin khawatir bahwa suku bunga yang lebih tinggi mungkin diperlukan pada akhir tahun ini untuk sepenuhnya memulihkan stabilitas harga dan menyeimbangkan kedua sisi mandat ganda The Fed secara tepat," kata Logan.
Kekhawatiran penentu kebijakan kian memuncak karena jika tekanan harga berlangsung terlalu lama, masyarakat akan mulai mengadaptasi ekspektasi inflasi yang tinggi ke dalam kehidupan sehari-hari.
"Inflasi yang berada di atas target dapat mengakar jika berlangsung terlalu lama," kata Logan.
Logan yang memiliki hak suara dalam Federal Open Market Committee tahun ini sebelumnya juga sempat menunjukkan sikap berseberangan pada pertemuan April terkait proyeksi arah kebijakan suku bunga.
"Kita setidaknya membutuhkan kebijakan yang sedikit restriktif untuk menuntaskan pekerjaan ini," ujarnya.
Gejolak geopolitik seperti perang di Iran turut memperparah keadaan dengan memicu lonjakan harga minyak dunia yang berimbas pada kenaikan biaya sewa serta harga pangan, di mana indikator inflasi pilihan The Fed telah naik 3,8% dalam 12 bulan hingga April.
"Jika seluruh analisis dan berbagai cara membaca data tersebut digabungkan, inflasi tampaknya bergerak menuju kisaran pertengahan 2%, namun belum sepenuhnya kembali ke 2%," kata Logan.
Di sisi lain, perbedaan pandangan masih terjadi di internal bank sentral mengenai arah kebijakan moneter ke depan.
Gubernur Federal Reserve Bank of New York John Williams menilai kondisi kebijakan saat ini sudah berada di posisi yang tepat sehingga tidak memerlukan perubahan dalam waktu dekat.
"Kebijakan moneter saat ini berada tepat di posisi yang semestinya. Saya tidak melihat perlunya menaikkan atau menurunkan suku bunga saat ini," kata Williams dalam wawancara dengan Yahoo Finance.
Ketidakpastian indikator ekonomi membuat proyeksi pergerakan suku bunga acuan Amerika Serikat ke depan masih menjadi perdebatan sengit.
"Saya juga tidak melihat arah yang jelas mengenai ke mana kebijakan akan bergerak di masa depan," tambahkan Williams.