Teh Menunjukkan Potensi Manfaat Kesehatan Meski Bukti Belum Definitif
Teh termasuk minuman yang sangat populer dan sarat makna budaya di berbagai negara sebagai simbol relaksasi dan tradisi.
Meski banyak penelitian telah dilakukan terkait efek teh terhadap kesehatan, belum ada bukti ilmiah yang benar-benar definitif. Sebagian besar studi bersifat observasional dan seringkali dilakukan dalam skala kecil atau waktu singkat.
Menurut Dr. Frank Hu, Ketua Departemen Nutrisi di Harvard TH Chan School of Public Health, hasil keseluruhan riset menunjukkan potensi manfaat kesehatan teh, terutama karena kandungan katekin dan polifenol yang bersifat antioksidan dan anti-inflamasi.
Teh mengandung senyawa fitokimia utama seperti kafein dan polifenol, yang berkontribusi pada efek farmakologisnya. Teh hijau memiliki kadar polifenol lebih tinggi, sedangkan teh hitam mengandung lebih banyak kafein.
Beberapa analisis mengaitkan konsumsi teh dengan penurunan risiko penyakit jantung, tekanan darah tinggi, stroke, diabetes, dan kematian dini. Penelitian juga menunjukkan teh bisa membantu mengurangi stres dan meningkatkan kesehatan mental.
Studi dengan lebih dari 410.000 orang yang diterbitkan di jurnal PeerJ pada 2023 menemukan bahwa konsumsi teh dapat menurunkan risiko demensia hingga 29 persen. Selain itu, studi di Jepang pada 2020 melaporkan bahwa minum empat cangkir teh hijau setiap hari berhubungan dengan risiko kematian dini yang lebih rendah hingga 40 persen.
Rekomendasi Konsumsi dan Perhatian Khusus
Dr. Hu menyarankan untuk mengonsumsi 2-4 cangkir teh hijau, oolong, atau hitam setiap hari untuk mendapatkan manfaat kesehatan. Namun, manfaat ini bisa berkurang jika teh ditambah banyak pemanis atau krim.
Kafein pada teh juga dapat memicu masalah bagi mereka yang menderita insomnia atau detak jantung tidak teratur, meskipun secara umum teh termasuk bagian dari pola makan sehat.
Pemberian Teh pada Anak
Spesialis gizi klinik dr. Raissa E. Djuanda menjelaskan bahwa teh mengandung tanin yang dapat menghambat penyerapan zat besi. Hal ini berisiko menyebabkan anemia pada anak-anak yang sedang dalam masa pertumbuhan.
Penyerapan zat besi yang kurang baik dapat berdampak pada perkembangan kecerdasan dan daya tahan tubuh anak. Namun, teh tetap bisa diberikan asalkan tidak diminum bersamaan dengan makanan yang mengandung zat besi, misalnya dengan jeda 1-2 jam setelah makan.
Selain itu, dr. Raissa menyarankan untuk memberikan teh dengan kadar tanin lebih rendah seperti teh hijau dan tidak terlalu pekat agar risiko gangguan penyerapan zat besi dapat diminimalkan.
Informasi ini dikutip dari Detik Health dan didasarkan pada berbagai penelitian serta pandangan para ahli nutrisi.