Aspermigas Sebut Target Asumsi Harga Minyak Mentah Indonesia 2027 Sulit Diprediksi
31 May 2026 19:00
Bloomberg Technoz, Jakarta – Asosiasi Perusahaan Minyak dan Gas (Aspermigas) menilai target asumsi harga minyak mentah Indonesia atau Indonesia Crude Price (ICP) 2027 di rentang US$70—US$90 per barel masih tidak bisa diprediksi relevansinya.
Penyebabnya, menurut Ketua Komite Investasi Aspermigas Moshe Rizal, menilai harga minyak mentah saat ini makin tak dapat diprediksi.
Dia mencontohkan ketika awal penutupan jalur perdagangan migas dunia di Selat Hormuz, sejumlah lembaga internasional sempat meramal harga minyak mentah bakal tembus hingga US$200/barel.
Akan tetapi, pada akhirnya, harga minyak mentah tidak mencapai ke level tersebut, meskipun sempat bertengger cukup lama di atas US$100/barel.
Moshe menegaskan naik atau turunnya harga minyak mentah pada tahun depan juga bakal serupa seperti tahun ini, yakni sangat dipengaruhi pergerakan Amerika Serikat (AS) di wilayah produsen migas.
Baca Juga
“Jadi kalau dibilang apakah tahun depan itu US$95 atau US$100 itu wajar, ya enggak tahu; tergantung dari konfliknya. Memang dibilang katanya konfliknya akan selesai nih, tetapi kita enggak tahu nanti ada perang baru atau tidak,” kata Moshe ketika dihubungi, Minggu (31/5/2026).
Dia menegaskan pasar saat ini sedang mewaspadai langkah AS di Brasil, Venezuela, hingga Kuba. Moshe memandang terdapat potensi harga minyak kembali memanas jika Presiden AS Donald Trump memutuskan ‘menyerang’ negara tersebut.
Meskipun begitu, Mosh menegaskan harga minyak bisa saja tak melonjak jika nantinya terdapat konflik baru yang terjadi.
Faktor pemangkasan dan penambahan pasokan dari produsen global turut memengaruhi pergerakan harga tersebut.
“Ini memang komoditas yang sangat-sangat sensitif. Masalah Timur Tengah kayak gini kan tiba-tiba boom terus kita banyak saja yang memprediksi 'oh ini bisa jadi US$200/barel', enggak pernah sampai US$200/barel kok,” tegas Moshe.
Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan pemerintah menargetkan lifting minyak bumi mencapai 602.000 hingga 615.000 barel per hari (bph) dalam Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) APBN Tahun Anggaran 2027.
Angka lifting minyak tersebut lebih tinggi dari target tahun ini sebesar 610.000 bph. Sementara itu, realisasi produksi harian pada kuartal I-2026 berada di angka 572.724 bph.
Adapun, lifting gas bumi dalam KEM-PPKF 2027 ditargetkan di rentang 934.000—977.000 barel setara minyak bumi per hari (boepd).
Di sisi lain, asumsi ICP dalam KEM-PPKF 2027 ditetapkan di sekitar US$70—US$95 per barel.
Prabowo mengatakan target tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk menjaga ketahanan energi nasional sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
“Lifting minyak bumi ditargetkan 602.000 hingga 615.000 barel per hari,” ujar Presiden dalam agenda penyampaian KEM-PPKF di Gedung Parlemen, Jakarta, Rabu (20/5/2026).
Target yang cukup optimistis ini dilempar Prabowo di tengah peningkatan ICP pada April 2026 yang menyentuh level US$117,31/barel, atau naik US$15,05 dari Maret 2026 senilai US$102,26/barel.
Sekadar catatan, harga minyak anjlok ke level terendah enam pekan pada penutupan perdagangan Jumat (29/5/2026), setelah AS dan Iran secara tentatif sepakat untuk memperpanjang gencatan senjata, yang memicu optimisme bahwa Selat Hormuz mungkin akan segera dibuka kembali.
Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun hampir 2% menjadi sekitar US$87/barel, sementara patokan global Brent berada di dekat US$92/barel.
Di sisi lain, Macquarie Group Ltd., sempat memprediksi harga minyak mentah berpotensi mencapai rekor US$200/barel jika perang Iran berlanjut hingga Juni 2026, dengan Selat Hormuz tetap tertutup
Konflik yang berlanjut hingga kuartal II-2026 akan menghasilkan harga riil yang sangat tinggi secara historis, kata para analis termasuk Vikas Dwivedi dalam sebuah catatan, yang menguraikan skenario dengan peluang 40%.