7 Tantangan Menyusui di Usia 35+ dan Cara Mengatasinya
Published
·
1 Reads
Menyusui adalah momen berharga yang mempererat ikatan antara Bunda dan Si Kecil, namun proses menyusui pada usia 35 tahun ke atas kerap menghadirkan tantangan tersendiri akibat perubahan hormon, pemulihan pascapersalinan, hingga kondisi kesehatan. Berikut adalah 7 tantangan yang bisa dialami Bunda saat menyusui di usia 35+ beserta cara mengatasinya.
- Produksi ASI terasa lambat keluar — Sebagian Bunda usia 35+ mengalami keterlambatan atau sedikitnya produksi ASI akibat perubahan hormonal, persalinan caesar, obesitas, diabetes, atau stres emosional. Solusinya adalah menyusui sesering mungkin minimal 8-12 kali sehari, melakukan kontak kulit (skin-to-skin), memastikan pelekatan tepat, menjaga asupan gizi dan cairan, serta berkonsultasi dengan konselor laktasi.
- Pemulihan tubuh lebih lama — Proses pemulihan fisik pascapersalinan usia 35+ bisa berlangsung lebih lama, terutama setelah operasi caesar, yang kerap memicu kelelahan dan keterlambatan inisiasi menyusu. Mengatasinya dapat dilakukan dengan beristirahat saat bayi tidur, menggunakan posisi menyusui seperti side-lying atau football hold, serta membagi tugas rumah tangga dengan pasangan.
- Nyeri puting dan payudara — Masalah seperti puting lecet, payudara bengkak (engorgement), dan saluran ASI tersumbat umum terjadi dan perlu diatasi dengan evaluasi posisi pelekatan bayi. Penanganannya meliputi kompres hangat sebelum menyusui, kompres dingin setelahnya, menyusui secara teratur, serta mengoleskan ASI sebagai pelembap alami pada puting lecet.
- Mudah lelah dan kurang energi — Kombinasi antara merawat bayi baru lahir, pemulihan fisik, dan kurang tidur dapat menurunkan suasana hati serta stamina menyusui. Cara mengatasinya adalah memprioritaskan waktu tidur, mengonsumsi makanan kaya protein, zat besi, kalsium, dan vitamin, cukup minum air putih, serta melibatkan orang terdekat untuk menjaga bayi.
- Memiliki penyakit penyerta — Kondisi medis kronis seperti hipertensi, diabetes, atau gangguan tiroid memerlukan pemantauan khusus meski sebagian besar tetap aman untuk menyusui menurut CDC. Solusinya adalah melakukan kontrol rutin ke dokter, memastikan keamanan obat yang dikonsumsi untuk ibu menyusui, dan tidak menghentikan pengobatan tanpa konsultasi medis.
- Risiko stres dan baby blues — Perubahan hormon dan ekspektasi tinggi terhadap keberhasilan menyusui dapat meningkatkan risiko gangguan suasana hati pada ibu usia 35+. Langkah mengatasinya adalah mengomunikasikan perasaan kepada pasangan, meluangkan waktu untuk diri sendiri, bergabung dengan komunitas ibu menyusui, serta berkonsultasi ke psikolog atau psikiater jika kesedihan berlanjut lebih dari dua minggu.
- Kurang percaya diri karena faktor usia — Kekhawatiran bahwa usia memengaruhi kualitas ASI atau kemampuan menyusui sering kali muncul padahal usia bukan penentu utama keberhasilan laktasi. Hal ini dapat diatasi dengan menyusui sesuai tanda lapar bayi, memastikan posisi yang nyaman, menjaga pola makan bergizi, menghindari rokok dan alkohol, serta berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.
Meskipun terdapat berbagai tantangan fisik maupun emosional, usia bukanlah penghalang untuk memberikan ASI eksklusif secara optimal dengan penanganan dan dukungan yang tepat.
Follow publika.id on Google News
Follow
Editors Team
danto-wijaya-kusuma
Author