Kenali Tanda Serangan Jantung saat Tidur yang Sering Terabaikan

Share

Serangan jantung tidak hanya mengintai individu yang tengah melakukan aktivitas fisik berat atau berada di bawah tekanan stres tinggi. Dalam banyak situasi, kondisi kegawatdaruratan medis ini justru menyerang ketika seseorang sedang beristirahat atau terlelap di malam hari.

Kondisi yang berlangsung pada malam hari membuat gejalanya kerap kali tidak disadari atau sekadar dianggap sebagai gangguan tidur biasa, seperti dilansir dari Detik Health. Alhasil, tindakan penanganan medis dari dokter sering kali terlambat diberikan kepada penderita.

Terdapat sejumlah alasan medis yang memicu terjadinya serangan jantung ketika seseorang sedang tertidur.

1. Obstructive Sleep Apnea (OSA)

Obstructive Sleep Apnea merupakan kondisi gangguan pernapasan saat tidur yang menyebabkan pengidapnya mengalami henti napas secara berulang. Hal ini terjadi karena adanya penyumbatan atau penyempitan pada saluran pernapasan yang menghambat aliran udara di tenggorokan.

Hambatan jalan napas ini mengakibatkan pasokan oksigen menuju jantung menurun drastis, sehingga memicu kerusakan pada otot jantung.

"Otot jantung itu ada dua jenis. Yang pertama sel yang bersifat listrik, dan sel yang bersifat pompa. Kalau yang rusak sel listrik, maka yang terjadi adalah listriknya konslet, dan itu meninggalnya lebih cepat," jelas Konsultan perawatan intensif dan kegawatan kardiovaskular, Dian Zamroni, SpJP.

2. Terabaikan karena Tidur Terlalu Pulas

Rasa nyeri dada yang menjadi tanda utama gangguan jantung kerap tidak dihiraukan karena pasien berada dalam fase tidur yang sangat nyenyak. Dampak keterlambatan deteksi ini bisa berakibat fatal bagi keselamatan jiwa.

Mekanisme Serangan Jantung

Berdasarkan data Mayo Clinic, serangan jantung bermula ketika pembuluh darah arteri yang menyuplai darah dan oksigen ke organ jantung mengalami penyumbatan. Penumpukan endapan lemak dan kolesterol seiring waktu akan membentuk plak di dalam arteri jantung tersebut.

Ketika plak tersebut pecah, gumpalan darah akan terbentuk dan menyumbat total aliran darah di arteri. Kurangnya pasokan aliran darah ini pada akhirnya menyebabkan kematian jaringan otot jantung.

Gejala yang Harus Diwaspadai

Merujuk pada informasi dari Verywell Health dan Cleveland Clinic, ada beberapa gejala klinis serangan jantung saat tidur yang wajib dicermati:

  • Nyeri dada: Sensasi dada seperti tertekan, remuk, terjepit, atau terasa pegal.
  • Rasa sakit menjalar: Rasa tidak nyaman yang menyebar ke area bahu, lengan, punggung, leher, rahang, gigi, hingga perut bagian atas.
  • Sesak napas: Mengalami sesak napas yang tidak wajar meski dalam posisi beristirahat atau tidak banyak bergerak.
  • Gejala lain: Munculnya keringat dingin secara mendadak dan rasa mual.

Prosedur Diagnosis Medis

Mengingat gejalanya yang tidak spesifik, pemeriksaan medis secara menyeluruh di rumah sakit sangat diperlukan untuk memastikan diagnosis. Dokter akan melakukan rangkaian tes awal, meliputi elektrokardiogram (EKG) serta tes darah.

Apabila hasil tes awal mengonfirmasi adanya serangan jantung, pasien akan menjalani pemeriksaan lanjutan seperti:

  • Ekokardiogram: Metode pemindaian menggunakan gelombang ultrasonik untuk melihat tingkat kerusakan pada organ jantung.
  • Angiogram koroner: Prosedur rontgen berbasis sinar-X guna mendeteksi lokasi pasti penyumbatan aliran darah di arteri jantung.

Panduan Tidur Sehat untuk Jantung

Pengaturan posisi tubuh saat tidur turut memengaruhi aktivitas kerja jantung. Studi tahun 2018 di laman Healthline menunjukkan bahwa tidur miring ke kiri dapat mengubah hasil pembacaan EKG akibat adanya pergeseran posisi jantung.

Sebaliknya, tidur miring ke kanan tidak memperlihatkan perubahan signifikan pada aktivitas EKG. Melalui teknik pencitraan vektokardiografi, diketahui bahwa posisi miring ke kanan membuat jantung tetap tertahan di tempatnya oleh mediastinum, yaitu lapisan jaringan tipis di antara paru-paru.

Bagi individu yang tidak memiliki masalah pernapasan atau apnea tidur, posisi tidur telentang dapat menjadi opsi yang aman. Sementara itu, tidur tengkurap memang mampu meminimalkan dengkuran, namun berisiko memicu nyeri pada leher dan punggung.

Centers for Disease Control and Prevention (CDC) juga membagikan beberapa tips tambahan untuk menjaga kualitas tidur sekaligus memelihara kesehatan jantung:

  • Terapkan jadwal tidur dan bangun yang konsisten setiap hari.
  • Dapatkan paparan sinar matahari yang cukup di pagi hari.
  • Rutin berolahraga, namun hindari aktivitas fisik berat beberapa jam menjelang waktu tidur.
  • Batasi penggunaan ponsel atau komputer sebelum memejamkan mata.
  • Hindari konsumsi makanan dan minuman berat beberapa jam sebelum tidur.
  • Kondisikan area kamar tidur agar tetap sejuk, gelap, dan tenang.

Faktor Risiko yang Meningkatkan Kerentanan

Kerentanan seseorang terhadap serangan jantung dipengaruhi oleh beberapa faktor klinis pendukung, antara lain:

  • Usia: Risiko mengalami serangan jantung akan melonjak signifikan saat seseorang memasuki usia 45 tahun ke atas.
  • Tekanan darah tinggi: Kondisi hipertensi yang dibiarkan kronis dapat memicu kerusakan struktural pada pembuluh darah arteri jantung.
  • Kolesterol tinggi: Tingginya kadar kolesterol LDL atau kolesterol jahat di dalam darah memicu penyempitan pembuluh darah.
Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
bram-adhitya-santoso
Author