5 Tanda Dehidrasi Tak Biasa yang Sering Diabaikan Menurut Ahli

Share

Kekurangan cairan tubuh atau dehidrasi tidak melulu ditunjukkan lewat rasa haus yang hebat atau kondisi bibir yang memecah. Sejumlah gejala yang tergolong tidak biasa sering kali muncul tanpa disadari oleh penderitanya, seperti aroma mulut tidak sedap hingga dorongan kuat untuk mengonsumsi makanan manis.

Ketika pasokan cairan berkurang, berbagai organ tubuh mengalami penurunan fungsi sehingga memicu respons fisik tertentu. Dampak ini dapat dipicu oleh minimnya asupan minum, paparan suhu panas, aktivitas fisik berat, maupun kondisi demam. Jika dibiarkan tanpa penanganan, gangguan fungsi tubuh berisiko memicu komplikasi yang cukup berat.

Seperti dilansir dari Detik Food melalui Everyday Health, terdapat lima sinyal tak biasa saat tubuh membutuhkan tambahan asupan cairan.

Penurunan kadar cairan tubuh berpengaruh langsung pada produksi air liur di dalam rongga mulut. Padahal, air liur mengandung zat alami yang berfungsi menekan perkembangbiakan bakteri pembawa aroma tak sedap.

Profesor Kedokteran di McGovern Medical School UT Health Houston sekaligus ahli jantung senior di Lyndon B. Johnson Hospital, Dr. John Higgins, memberikan penjelasannya mengenai fenomena ini.

"Jika produksi air liur tidak mencukupi, bakteri di dalam mulut dapat berkembang lebih banyak dan salah satu dampaknya adalah bau mulut," kata Dr. John Higgins.

Kondisi berkurangnya air liur tersebut juga menjadi alasan utama munculnya aroma tidak segar di mulut saat bangun tidur pada pagi hari.

2. Kulit Kering dan Memerah

Banyak anggapan keliru bahwa dehidrasi selalu ditandai dengan keluarnya keringat berlebih. Sebaliknya, saat cadangan air terus merosot, permukaan kulit justru berubah menjadi kering dan tampak kemerahan.

Kekurangan cairan turut merusak tingkat elastisitas jaringan kulit. Saat tes cubitan dilakukan pada permukaan kulit, dibutuhkan waktu lebih lambat bagi jaringan untuk kembali ke bentuk semula. Kondisi kulit yang terlihat kusam serta memerah tanpa pemicu yang jelas merupakan petunjuk kuat bahwa jaringan tubuh memerlukan tambahan pasokan air.

3. Kram Otot

Sensasi kram pada otot kerap terjadi usai berolahraga atau beraktivitas berat di bawah terik matahari. Pengeluaran cairan yang masif membuat sistem pendingin internal tubuh gagal bekerja optimal, sehingga suhu tubuh melonjak naik.

Peningkatan suhu ini memaksa otot bekerja jauh lebih keras hingga memicu kejang. Berkurangnya elektrolit esensial seperti natrium dan kalium makin memperburuk gangguan pada kontraksi otot.

"Semakin tinggi suhu tubuh, semakin besar kemungkinan mengalami kram otot," ujar Dr. John Higgins.

Mengonsumsi cairan pengganti beserta elektrolit pascaolahraga sangat dianjurkan untuk menekan risiko terjadinya kejang otot.

4. Demam dan Menggigil

Suhu tubuh yang meninggi disertai rasa menggigil juga berkaitan dengan dehidrasi, terutama saat tubuh mengalami kelelahan akibat serangan cuaca panas. Reaksi awal biasanya ditandai dengan kulit yang terasa dingin dan basah oleh keringat.

Apabila kondisi meruncing, kulit akan berbalik menjadi panas, memerah, dan kering. Kondisi demam ini berisiko memperparah tingkat dehidrasi karena menguras cairan tubuh lebih cepat. Pemulihan harus segera dilakukan dengan memindahkan penderita ke area sejuk, mengompres tubuh memakai kain basah dingin, serta mengakses fasilitas medis terdekat.

5. Ngidam Makanan Manis dan Sakit Kepala

Keinginan mendadak untuk menyantap makanan manis ternyata bisa menjadi indikasi tubuh kekurangan air. Organ hati membutuhkan cairan dalam jumlah cukup untuk memproses pelepasan glikogen, yaitu cadangan glukosa yang berfungsi sebagai sumber energi.

Hambatan pada proses pelepasan glikogen akibat dehidrasi akan memicu sinyal lapar alami, khususnya keinginan mengonsumsi asupan bergula. Di samping itu, dehidrasi tingkat ringan juga kerap menjadi pemicu timbulnya sakit kepala. Memenuhi kebutuhan minum air putih secara rutin efektif membantu meredakan rasa nyeri di kepala jika pemicunya adalah kekurangan cairan.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
gilang-permana-putra
Author