Ekonom Prediksi Surplus Neraca Dagang April 2026 Menyusut Tajam
Surplus neraca perdagangan Indonesia pada April 2026 diprediksi tetap berlanjut namun akan mengalami penyempitan yang cukup tajam dibandingkan bulan sebelumnya akibat normalisasi impor pascalibur Idul Fitri dan tingginya biaya energi global.
Proyeksi penurunan angka surplus tersebut disampaikan oleh Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede pada Senin (1/6/2026), sebagaimana dilansir dari Bloomberg Technoz.
"Proyeksi kami menunjukkan surplus neraca dagang April 2026 turun menjadi sekitar US$1,43 miliar dari US$3,32 miliar pada Maret," ungkap Joshua saat dihubungi Senin (1/6/2026).
Penyempitan surplus ini dipicu oleh aktivitas impor yang kembali melonjak, sementara kinerja ekspor belum menunjukkan pertumbuhan bulanan yang signifikan di tengah tingginya harga minyak dunia.
"Ekspor April 2026 diperkirakan tumbuh 9,10% secara tahunan setelah Maret terkontraksi 3,10%. Namun, secara bulanan ekspor diperkirakan hanya naik 0,46%," tambahnya.
Rendahnya basis pembanding pada April 2025 menjadi penyebab utama pertumbuhan ekspor tahunan terkesan tinggi, bukan karena adanya lonjakan permintaan eksternal yang kuat dari negara mitra dagang seperti China.
"Dari sisi impor, tekanan terhadap surplus dagang lebih jelas. Impor April 2026 diperkirakan tumbuh 2,98% secara tahunan dan naik 10,37% secara bulanan," ungkapnya.
Peningkatan impor secara bulanan dipengaruhi oleh pemulihan aktivitas ekonomi domestik, kebijakan pemerintah yang pro-pertumbuhan, serta lonjakan harga minyak akibat eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
"Ini menunjukkan dua hal yakni aktivitas domestik masih bergerak, tetapi kebutuhan impor, terutama energi dan bahan baku, mulai menekan ruang surplus perdagangan," tambahnya.
Meskipun surplus dagang masih menjadi penopang nilai tukar Rupiah, tren pertumbuhan impor yang lebih cepat dibandingkan ekspor berisiko memperlebar defisit transaksi berjalan Indonesia sepanjang tahun ini.
"Kami juga memperkirakan defisit transaksi berjalan 2026 dapat melebar menjadi sekitar 1,07% PDB dari defisit 0,11% PDB pada 2025, terutama bila kebijakan pro-pertumbuhan meningkatkan impor sementara permintaan global belum pulih kuat," ungkapnya.
Sebagai perbandingan, Badan Pusat Statistik mencatat neraca perdagangan Maret 2026 membukukan surplus sebesar US$3,32 miliar, melonjak dari capaian Februari 2026 yang senilai US$1,27 miliar. Pada Maret 2026, nilai ekspor Indonesia menyentuh angka US$22,53 miliar atau tumbuh 3,10% secara tahunan, sementara nilai impor berada di angka US$19,21 miliar atau meningkat 1,51% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.