Suku Bunga The Fed Tetap Pasar Keuangan Global Tertekan Lanjut

Share

Kebijakan Bank Sentral Amerika Serikat menahan suku bunga acuan di kisaran 3,50 persen hingga 3,75 persen pada Rabu (29/7/2026) memicu guncangan hebat di pasar keuangan global. Langkah penahanan ini memicu aksi jual masif di bursa saham Wall Street akibat meningkatnya kekhawatiran pelaku pasar terhadap potensi lonjakan inflasi.

Kepanikan investor memboyong indeks Dow Jones Industrial Average anjlok hingga 1.153,18 poin atau 2,19 persen ke posisi 51.594,14. Pada saat bersamaan, indeks S&P 500 tergerus 1,52 persen ke level 7.316,15, sementara Nasdaq Composite melemah 1,74 persen menjadi 24.442,94.

Keputusan penahanan suku bunga tersebut menimbulkan keretakan di internal Federal Open Market Committee (FOMC). Sebanyak tiga dari 12 anggota komite, yang merupakan kepala bank regional The Fed dari Cleveland, Dallas, dan Minneapolis, menyatakan penolakan dan mendorong kenaikan suku bunga sebesar 0,25 persen.

Penolakan tersebut dipicu oleh kembali terakselerasinya inflasi dasar akibat lonjakan harga pangan dan energi dari eskalasi perang di Timur Tengah, serta besarnya belanja korporasi di bidang kecerdasan buatan. Lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 30 tahun yang menembus 5,20 persen menjadi bukti ketidakpercayaan pasar terhadap retorika bank sentral.

Gubernur The Fed Kevin Warsh menegaskan komitmen lembaga yang dipimpinnya untuk terus berupaya meredam gejolak inflasi tanpa kompromi.

"Saya ingin menegaskan bahwa keputusan komite ini sangat penting. Jika diperlukan dan dinilai tepat, kami tidak akan ragu untuk bertindak," kata Warsh, dilansir dari CNBC International.

Ia menepis anggapan bahwa pengendalian inflasi dapat diselesaikan secara instan melalui kebijakan suku bunga semata.

"Kami sedang bekerja, kami akan mewujudkannya, kami fokus untuk memastikan kami bisa melakukannya, tetapi anggapan bahwa kami bisa melakukannya dengan tongkat ajaib adalah sesuatu yang ingin saya singkirkan dari pikiran Anda semua," ujar Warsh.

Sikap ambigu bank sentral memicu kritik tajam dari para pengamat ekonomi serta pelaku pasar modal global. Pendiri DoubleLine Capital Jeffrey Gundlach menilai lonjakan imbal hasil obligasi merupakan sinyal keras bagi otoritas moneter.

"Kalau benar-benar ingin membawa inflasi kembali ke 2%, saya rasa The Fed harus menaikkan suku bunga," ujar Gundlach dalam wawancara dengan CNBC.

Menurutnya, respons pasar obligasi jangka panjang pascakonferensi pers mencerminkan keraguan serius atas efektivitas langkah yang diambil.

"Yield obligasi jangka panjang naik tajam setelah konferensi pers karena pasar obligasi pada dasarnya mengatakan, 'Kalau Anda ingin kami percaya dengan retorika Anda, mulailah bertindak,'" ujarnya.

Nada serupa disampaikan oleh Kepala Ekonom AS di J.P. Morgan Michael Feroli melalui laporan analisisnya.

"Pernyataannya melibatkan banyak frasa yang disusun dengan baik, tetapi sangat minim pandangan makroekonomi yang koheren," tulis Feroli, seperti dilansir dari Suara.com.

Sementara itu, ketegangan geopolitik turut memperburuk kondisi pasar setelah Presiden AS Donald Trump menegaskan bakal membalas serangan mendadak terhadap pangkalan dan pasukan militer AS di Timur Tengah.

"Kami akan menghajar mereka habis-habisan," kata Trump kepada Fox News.

Eskalasi konflik di Pelabuhan Damietta Mesir dan Selat Hormuz langsung mendorong kenaikan harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) lebih dari 6 persen hingga ditutup pada level US$84,46 per barel.

Di pasar domestik, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 0,64 persen ke posisi 6.091,39 pada perdagangan Rabu (29/7/2026). Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sempat menguji level psikologis Rp18.100/US$ pada pembukaan pagi hari sebelum akhirnya membalikkan keadaan dan ditutup menguat tipis 0,06 persen ke level Rp18.045/US$.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
farhan-dwi-ramadhan
Author