Studi Ungkap Mikroplastik Cemari Cairan Folikel Ovarium dan Air Mani

Share

Partikel mikroplastik berukuran kurang dari 5 mm kini ditemukan dalam cairan reproduksi manusia. Penelitian yang diterbitkan di jurnal Human Reproduction pada 2025 mengungkap keberadaan polimer tersebut pada cairan folikel ovarium perempuan dan air mani laki-laki.

Seperti dilansir dari HaiBunda, para ilmuwan menguji cairan folikel dari 29 perempuan dan sampel cairan mani milik 22 laki-laki. Kedua jenis cairan ini memiliki peran yang sangat krusial dalam proses pembuahan alami maupun teknologi reproduksi berbantuan.

Identifikasi paparan dilakukan menggunakan beberapa jenis polimer plastik umum. Jenis-jenis tersebut meliputi politetrafluoroetilena (PTFE), polistirena (PS), polietilena tereftalat (PET), poliamida (PA), polipropilena (PP), dan poliuretan (PU).

Hasil analisis menunjukkan mikroplastik mengontaminasi 69 persen sampel cairan folikel ovarium. Polimer PTFE menjadi jenis yang paling dominan ditemukan sebesar 31 persen, disusul PP 28 persen, PET 17 persen, PA 14 persen, polietilen 10 persen, PU 10 persen, dan PS 7 persen.

Sementara pada sampel air mani laki-laki, kontaminasi mikroplastik mencapai 55 persen. Jenis polimer yang paling sering muncul kembali dipimpin oleh PTFE dengan persentase sebesar 41 persen, diikuti oleh PS 14 persen, PET 9 persen, PA 5 persen, serta PU 5 persen.

"Studi sebelumnya telah menunjukkan bahwa mikroplastik dapat ditemukan di berbagai organ manusia. Oleh karena itu, kami tidak sepenuhnya terkejut menemukan mikroplastik dalam cairan sistem reproduksi manusia, tetapi kami terkejut dengan seberapa umum keberadaannya, yakni ditemukan pada 69 persen perempuan dan 55 persen laki-laki yang kami teliti," kata peneliti utama Dr. Emilio Gomez-Sanchez, dilansir News Medical.

Meskipun studi ini tidak mengukur dampak langsung terhadap fertilitas, penemuan ini memicu urgensi pemeriksaan lebih lanjut terkait dampaknya bagi sistem reproduksi manusia.

"Penelitian pada hewan menunjukkan bahwa di jaringan tempat mikroplastik menumpuk, mikroplastik dapat menyebabkan peradangan, pembentukan radikal bebas, kerusakan DNA, penuaan sel, dan gangguan endokrin," ujar Gomez-Sanchez.

"Ada kemungkinan mikroplastik dapat merusak kualitas sel telur atau sperma pada manusia, tetapi kita belum memiliki cukup bukti untuk mengkonfirmasi hal itu."

Gomez-Sanchez menegaskan bahwa tingkat kesuburan seseorang ditentukan oleh akumulasi banyak aspek. Faktor internal seperti umur, kondisi kesehatan, dan faktor genetika memegang peranan penting.

"Tidak perlu khawatir saat ini. Mikroplastik hanyalah salah satu dari banyak elemen yang mungkin berperan dalam kesuburan. Namun, bijaksana untuk mempertimbangkan cara mengurangi paparan kita terhadapnya. Langkah-langkah sederhana, seperti cara menggunakan wadah kaca untuk menyimpan dan memanaskan makanan, atau membatasi jumlah air yang kita konsumsi dari botol plastik, dapat membantu meminimalkan paparan," ungkapnya.

Pakar reproduksi Profesor Dr. Carlos Calhaz-Jorge menilai temuan riset ini dapat menjadi panduan awal bagi publik untuk meminimalkan paparan plastik dalam aktivitas harian.

"Faktor lingkungan yang memengaruhi reproduksi tentu merupakan kenyataan, meskipun tidak mudah diukur secara objektif. Para penulis studi ini menemukan mikroplastik di lebih dari dua pertiga cairan folikel dan lebih dari 50 persen cairan semen dari pasien yang diteliti," kata Calhaz-Jorge.

"Meskipun signifikansi temuan ini belum jelas, hal ini harus dianggap sebagai argumen tambahan untuk menghindari penggunaan plastik secara umum dalam kehidupan sehari-hari kita," lanjutnya.

Berdasarkan informasi yang dikutip dari The Guardian, cairan folikel berfungsi menyalurkan nutrisi esensial serta sinyal biokimia guna pematangan sel telur. Kontaminasi partikel plastik pada proses ini diduga dapat mengganggu kesuburan, regulasi hormon, serta kesehatan sistem reproduksi secara menyeluruh.

Di sisi lain, paparan materi mikroplastik dalam air mani berpotensi memengaruhi tingkat kesuburan pria. Hal ini berkaitan dengan penurunan motilitas atau kemampuan berenang sperma, pengurangan jumlah sperma, hingga perubahan morfologi bentuk sperma.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
kartika-dewi-anggraini
Author