Studi Ungkap Bayi Usia 8 Bulan Sudah Bisa Berbohong

Share

Penelitian terbaru mengungkapkan fakta mengejutkan mengenai perilaku anak. Bayi yang baru menginjak usia 8 bulan ternyata sudah mulai belajar dan mempraktikkan kebohongan.

Hasil riset yang dipublikasikan dalam jurnal Cognitive Development ini menunjukkan bahwa pemahaman mengenai kecurangan muncul jauh lebih cepat dari dugaan sebelumnya, sebagaimana dilansir dari HaiBunda.

Bentuk penipuan pada usia dini berbeda dari kebohongan berencana yang biasa dilakukan oleh anak-anak yang lebih besar atau remaja.

Neuropsikolog Sanam Hafeez menjelaskan bahwa aksi ini pada bayi bisa terlihat dari hal sederhana. Salah satunya adalah saat bayi menangis, lalu mendadak berhenti setelah digendong orang tua.

Perilaku menipu ini juga dapat dijumpai pada anak balita. Contohnya ketika mereka terburu-buru menyembunyikan makanan saat orang tua mendekat, atau membantah telah makan meski ada remahan di sekitar mulut.

Hasil Studi Perilaku Berbohong Anak

Dalam studi yang dilakukan tim peneliti dari University of Bristol, sebanyak lebih dari 750 orang tua diminta merespons pertanyaan terkait perilaku anak mereka yang berusia 0 hingga 47 bulan.

Penulis studi, Elena Hoicka, menyebutkan bahwa kemampuan anak dalam berbohong sudah berkembang sejak usia yang sangat muda dan akan terus terasah hingga mereka tumbuh makin lihai.

Riset sebelumnya umumnya menganggap kebohongan sebagai proses kompleks yang membutuhkan penguasaan bahasa serta pemahaman sudut pandang orang lain. Namun, laporan paling awal anak memahami kebohongan kini ditemukan pada usia 8 bulan.

Data penelitian tersebut turut memaparkan bahwa sebanyak 25 persen anak diperkirakan sudah memahami konsep berbohong pada usia 18 bulan dan mempraktikkannya di usia 16 bulan.

Tanda Perkembangan Otak Normal

Para ahli menegaskan bahwa perilaku ini pada anak usia dini bukan dipicu oleh niat jahat untuk memanipulasi secara sengaja, melainkan bagian dari perkembangan yang normal.

Sanam Hafeez menyampaikan bahwa aksi eksperimen ini menandakan kecerdasan sosial anak berkembang lebih cepat. Hal serupa diutarakan oleh dokter spesialis anak, Molly O’Shea.

O'Shea menilai perilaku tersebut sebagai bukti bahwa otak berkembang dengan baik. Untuk berbohong, anak harus menyadari pemikiran orang lain sekaligus memprediksi respons yang akan muncul.

Sikap yang Perlu Diambil Orang Tua

Meski temuan ini menarik, para pakar menyepakati perlunya riset lanjutan. Psikolog klinis Emma Murray menyebutkan bahwa penelitian lanjutan dibutuhkan untuk memisahkan persepsi orang tua dari perilaku murni sang bayi.

Adanya temuan ini diharapkan dapat membantu orang tua agar lebih tenang dan tidak bereaksi terlalu keras saat mendapati anaknya berpura-pura atau berbohong.

Sanam Hafeez mengingatkan bahwa respons pengasuh terhadap tindakan anak sangat menentukan pembentukan rasa percaya yang sedang tumbuh dalam diri mereka.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
melinda-putri-handayani
Author