Studi Unair Ungkap Pajanan BPA Kemasan Pemicu Alergi Orang Dewasa

Share

Konsumsi air minum dalam kemasan yang mengandung Bisphenol A berisiko meningkatkan riwayat alergi pada orang dewasa. Risiko hipersensitivitas ini terungkap dalam penelitian ilmiah terbaru Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga.

Hasil riset akademisi FKM Unair yang dipublikasikan dalam jurnal AIMS Environmental Science edisi 2025 menunjukkan adanya hubungan signifikan secara statistik antara paparan BPA melalui kemasan air minum dengan gangguan imunosupresif, seperti dilansir dari Detik Health.

Senyawa kimia industri ini umumnya digunakan pada pembuatan plastik keras polikarbonat untuk galon air minum isi ulang. Selama ini perdebatan publik lebih berfokus pada ancaman kanker atau gangguan reproduksi, sementara dampak terhadap sistem kekebalan tubuh masih jarang disorot.

Dosen Departemen Kesehatan Lingkungan FKM Unair sekaligus anggota tim riset, Dr. Sudarmaji menegaskan temuan timnya bukan tanpa preseden.

"Selama lebih dari satu dekade terakhir, cukup banyak penelitian eksperimental maupun epidemiologi yang melaporkan bahwa pajanan BPA berpotensi memengaruhi sistem imun. Hasil penelitian kami menjadi tambahan bukti ilmiah, khususnya dari Indonesia, bahwa pajanan BPA melalui air minum dalam kemasan layak terus dipantau sebagai isu kesehatan lingkungan," katanya dalam keterangan tertulis, Kamis (30/7/2026).

Pengujian dilakukan terhadap 96 responden dewasa di Kelurahan Tambak Wedi, Surabaya. Para peserta rata-rata mengonsumsi sekitar dua liter air per hari selama kurang lebih 31 tahun.

Uji laboratorium terhadap 10 merek air kemasan galon di wilayah tersebut membuktikan seluruh sampel terdeteksi mengandung BPA. Kadar tertinggi yang ditemukan pada sampel air mencapai angka 0,099 µg/L.

Secara biologis, masuknya bahan kimia ini diduga memicu stres oksidatif dan merangsang reaksi peradangan dalam tubuh. Kondisi tersebut memicu ketidakseimbangan respons imun sehingga tubuh lebih rentan mengalami reaksi alergi.

"Akibatnya, pada individu tertentu, respons imun dapat menjadi tidak seimbang sehingga lebih mudah muncul reaksi hipersensitivitas atau alergi," paparnya.

Sudarmaji menambahkan potensi gangguan ini perlu dilihat dalam konteks paparan jangka panjang.

"Rata-rata responden mengonsumsi sekitar dua liter air per hari dengan durasi konsumsi sekitar 31 tahun. Pajanan kumulatif jangka panjang tetap perlu menjadi perhatian," jelasnya.

Dampak buruk zat kimia tersebut paling berisiko menyerang kelompok rentan seperti janin, bayi, anak-anak, ibu hamil, serta individu dengan sistem imun yang belum matang atau terganggu.

"Temuan ini menjadi sinyal ilmiah bahwa pajanan BPA tetap perlu dikendalikan, terutama melalui pengawasan mutu kemasan pangan, edukasi masyarakat, dan penelitian lanjutan," pungkas Sudarmaji.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
sheila-amara-zahra
Author