Studi Terbaru Ungkap Kaitan Asupan Nutrisi dengan Kesuburan Perempuan
Faktor kesuburan perempuan sangat dipengaruhi oleh status gizi, komposisi tubuh, serta keseimbangan hormon reproduksi. Asupan nutrisi yang cukup memegang peran krusial dalam menyokong fungsi reproduksi melalui pengaturan metabolisme dan keseimbangan hormonal, seperti dikutip dari HaiBunda. Sebuah studi terbaru yang diterbitkan dalam Scientific Reports mengkaji korelasi antara asupan makanan dengan komposisi tubuh dan kadar hormon reproduksi pada perempuan tidak subur.
Riset tersebut melibatkan 97 perempuan berusia 18 hingga 40 tahun yang memenuhi kriteria klinis infertilitas di sebuah klinik kesuburan di Spanyol antara tahun 2022 dan 2024.
Para peserta riset ini umumnya belum berhasil hamil setelah minimal 12 bulan berhubungan seksual tanpa pengaman, atau enam bulan bagi yang berusia di atas 35 tahun. Perempuan dengan gangguan seperti sindrom ovarium polikistik (PCOS), endometriosis, atau penyakit endokrin yang membutuhkan terapi medis sengaja dieksklusi untuk menjaga akurasi hasil.
Tim peneliti mengevaluasi asupan makanan menggunakan food frequency questionnaire (FFQ) yang telah tervalidasi untuk merekam konsumsi makanan selama setahun terakhir. Pada fase folikular awal, sampel darah puasa peserta diambil untuk mengukur hormon anti-Mullerian (AMH), hormon perangsang folikel, luteinizing, perangsang tiroid (TSH), estradiol, kalsidiol, dan prolaktin.
Analisis statistik kemudian diterapkan dengan menyelaraskan variabel asupan kalori, tingkat aktivitas fisik, indeks massa tubuh (IMT), serta kebiasaan merokok. Hasil penelitian mendapati adanya hubungan yang signifikan antara jenis nutrisi yang dikonsumsi dengan struktur komposisi tubuh pasien. Konsumsi riboflavin atau vitamin B2 yang tinggi memperlihatkan hubungan positif yang signifikan dengan persentase massa otot tubuh.
Kadar kalsium yang diserap tubuh juga menunjukkan korelasi positif terhadap massa otot, yang menandakan peran kalium dalam homeostasis metabolik selain untuk tulang.
Sebaliknya, asupan vitamin E menunjukkan korelasi terbalik dengan lingkar pinggul, di mana konsumsi antioksidan yang lebih tinggi berhubungan dengan ukuran lingkar pinggul yang lebih kecil. Temuan ini mengindikasikan vitamin E kemungkinan berkaitan dengan distribusi lemak tubuh, meski memerlukan riset lanjutan untuk konfirmasi lebih mendalam. Konsumsi vitamin E yang lebih tinggi juga terpantau berkaitan dengan penurunan kadar hormon prolaktin dalam tubuh.
Kadar prolaktin yang terlalu tinggi diketahui dapat mengganggu proses ovulasi normal dan kelancaran siklus menstruasi.
Secara umum, riset menyimpulkan bahwa zat gizi spesifik berhubungan langsung dengan indikator utama kesehatan reproduksi wanita dengan infertilitas. "Asupan vitamin E yang lebih tinggi dikaitkan dengan kadar prolaktin yang lebih rendah dan lingkar pinggul yang lebih kecil, sementara riboflavin dan kalsium dikaitkan dengan persentase massa otot yang lebih tinggi. Hal ini menunjukkan potensi pendekatan nutrisi yang ditargetkan untuk mendukung profil hormonal dan komposisi tubuh yang lebih menguntungkan," demikian temuan studi, dilansir laman News Medical.
Penelitian prospektif dalam jangka panjang masih tetap dibutuhkan guna memvalidasi kepastian hubungan antara nutrisi dan tingkat kesuburan perempuan.