Maria Rahajeng Alami Kehamilan Ektopik Hingga Harus Operasi

Share

Kabar duka datang dari Miss Indonesia 2014 Maria Rahajeng yang harus merelakan kehamilannya. Ia mengalami keguguran akibat kondisi kehamilan ektopik hingga menjalani operasi darurat, dilansir dari HaiBunda.

Maria pertama kali mengetahui kehamilannya pada 21 Juli 2026. Untuk memastikan kondisi tersebut, ia melakukan tes mandiri sebanyak tiga kali dengan hasil positif.

"Aku melakukan tes kehamilan pertamaku, hasilnya positif," kata Maria.

Pada 24 Juli 2026, Maria menjalani pemeriksaan USG pertama. Namun dokter menjelaskan janin belum terlihat karena usia kehamilan yang masih sangat muda.

Dokter meminta Maria melakukan pemeriksaan ulang beberapa minggu kemudian. Ia diberi vitamin prenatal dan diizinkan melanjutkan rencana perjalanannya ke Eropa.

Saat tiba di Polandia pada 30 Juli 2026, Maria mulai mengalami perdarahan hebat pada malam harinya.

"Namun, malam itu, saya mulai mengalami perdarahan. Jauh di lubuk hati, saya tahu ada sesuatu yang tidak beres," tulis Maria Rahajeng.

Keesokan harinya, suami dan orang tua membawanya ke klinik terdekat. Dokter mengonfirmasi adanya tanda keguguran dan kehamilan ektopik.

"Setelah pemeriksaan USG, dokter memberi tahu bahwa saya mengalami keguguran dan kemungkinan akan terus mengalami perdarahan selama sekitar satu minggu. Dokter mengatakan bahwa ada tanda-tanda kehamilan ektopik. Hati saya benar-benar hancur."

Maria dan suaminya, Matthias, berusaha saling menguatkan dalam menghadapi momen duka tersebut.

"Kami berduka bersama, kami saling menguatkan satu sama lain."

Setelah perdarahan berhenti, Maria kembali ke Jakarta pada 12 Agustus. Namun, ia merasakan nyeri hebat pada panggul saat pesawat hendak mendarat.

"Sekali lagi, saya tahu ada sesuatu yang sangat tidak beres."

Malam itu ia langsung dilarikan ke rumah sakit. Hasil pemeriksaan memastikan kehamilan ektopik dan ia harus segera dioperasi.

Kehamilan ektopik terjadi ketika sel telur yang dibuahi menempel di luar rahim, paling sering di saluran tuba fallopi.

Tuba fallopi tidak dirancang untuk menampung perkembangan embrio. Kondisi ini dapat memicu perdarahan serius bagi ibu hamil.

Jika tuba fallopi pecah, kondisi ini dapat mengancam jiwa karena berisiko memicu perdarahan parah, infeksi, hingga kematian.

Gejala awal kehamilan ektopik mirip kehamilan biasa. Namun penderita kerap merasakan perdarahan vagina, pusing, serta nyeri di panggul atau perut bawah.

Dikutip dari Cleveland Clinic, tuba fallopi yang pecah dapat menyebabkan pingsan, tekanan darah rendah, nyeri bahu, hingga tekanan rektal.

Penyebab dan Penanganan Medis

Penyebab utama kehamilan ektopik adalah kondisi yang menghambat pergerakan sel telur menuju rahim.

Faktor risikonya meliputi jaringan parut bekas operasi panggul, kerusakan tuba akibat infeksi menular seksual, kelainan bentuk tuba, atau adanya penyumbatan.

Penanganan medis dapat dilakukan melalui pemberian obat metotreksat jika tuba fallopi belum pecah.

Pilihan lainnya adalah prosedur operasi laparoskopi untuk mengangkat tuba atau sel telur guna menyelamatkan nyawa pasien.

Wanita yang pernah mengalami kehamilan ektopik disarankan menunda kehamilan berikutnya selama tiga bulan agar organ reproduksi pulih sepenuhnya.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
gilang-permana-putra
Author