Studi Ungkap Risiko Depresi Berat Pasca Persalinan Capai Puncak pada Minggu Kedua
Risiko depresi berat setelah melahirkan ditemukan mengalami fluktuasi, dengan tingkat prevalensi tertinggi terjadi pada dua minggu pasca persalinan. Fakta tersebut terungkap melalui studi terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal kesehatan The Lancet Psychiatry, seperti dilansir dari HaiBunda.
Para peneliti dari University of Queensland melakukan analisis mendalam menggunakan data dari 780 studi. Data tersebut mencakup lebih dari dua juta perempuan dan anak perempuan yang tersebar di 90 negara di seluruh dunia.
Tim riset memfokuskan pengamatan pada lini masa yang dimulai dari masa konsepsi hingga 12 bulan setelah proses melahirkan. Langkah ini diambil untuk memahami fluktuasi prevalensi depresi berat secara lebih rinci.
Profesor Alize Ferrari dari School of Public Health menjelaskan gambaran statistik mengenai fenomena gangguan kesehatan mental ini.
"Secara global, depresi berat berdampak pada sekitar 4,3 persen perempuan dan anak perempuan (di bawah 18 tahun) dalam populasi yang lebih luas, tetapi kami menemukan prevalensinya adalah 6,2 persen untuk perempuan selama kehamilan dan 6,8 persen selama 12 bulan setelah melahirkan," kata Ferrari.
Temuan ini sekaligus menegaskan urgensi implementasi program deteksi dini bagi para ibu. Skrining dan intervensi awal disarankan masuk dalam agenda pemeriksaan kesehatan berkala.
"Hasil penelitian ini menyoroti perlunya memasukkan skrining dan intervensi dini untuk depresi selama periode peripartum, terutama dalam kunjungan perawatan antenatal dengan dokter kandungan, bidan, dan dokter umum, serta pemeriksaan kesehatan periode pasca persalinan lainnya."
Data penelitian juga menunjukkan adanya variasi angka kejadian yang cukup mencolok antar wilayah geografis. Kawasan Afrika sub-Sahara bagian selatan serta Asia selatan mencatat angka tertinggi untuk kasus depresi berat selama periode peripartum.
Sebaliknya, angka kasus terendah ditemukan pada wilayah dengan tingkat pendapatan tinggi di area Asia Pasifik. Dr. Paul Miller selaku rekan peneliti Adjunkt menyebut perbedaan metodologi pengumpulan data dan faktor risiko psikososial menjadi pemicunya.
Aksesibilitas terhadap layanan medis, kendala penanganan, serta pengaruh budaya lokal turut memengaruhi disparitas data tersebut. Sistem pendukung dari lingkungan terdekat memegang peranan krusial bagi kondisi psikologis ibu.
"Cara keluarga, komunitas yang lebih luas, dan sistem kesehatan mendukung perempuan dan anak perempuan selama kehamilan dan beberapa bulan setelahnya berbeda-beda dari satu negara ke negara lain, dan ini berperan dalam kesehatan mental mereka," ungkap Miller.
Sementara itu, kawasan Australasia mencatat angka yang berada sedikit di bawah rerata dunia. Wilayah ini mendokumentasikan angka 5,7 persen saat kehamilan dan 6,1 persen pada tahun pertama setelah bersalin.
"Temuan kami menunjukkan perlunya peningkatan skrining, pencegahan, dan pengobatan depresi berat selama kehamilan dan periode pasca persalinan," sambungnya.
Depresi postpartum merupakan bentuk gangguan klinis yang muncul setelah kelahiran bayi. Dampak kondisi ini dapat mengganggu stabilitas aktivitas harian serta performa seorang perempuan dalam menjalankan peran sebagai orang tua.
Berdasarkan penjelasan American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG), penderita kondisi ini umumnya tidak mampu merampungkan tugas harian, termasuk mengasuh bayi. Sindrom ini dapat bertahan hingga satu tahun, namun fase awal biasanya terdeteksi pada minggu pertama sampai ketiga pasca persalinan.
Praktisi kesehatan holistik dan peneliti, Debra Rose Wilson, Ph.D, menekankan bahwa gangguan psikologis ini membutuhkan perhatian medis yang serius.
"Orang-orang tidak boleh menganggap enteng depresi postpartum. Ini adalah kondisi yang serius, namun berbagai program pengobatan dapat membantu mengatasinya. Jika mengalami depresi postpartum, maka perempuan itu perlu tahu bahwa ia tidak sendirian dan bisa pulih," ujar Debra Rose Wilson, Ph.D.
Potensi perkembangan menjadi depresi kronis akan semakin besar apabila kondisi ini dibiarkan bertahan dalam jangka waktu lama tanpa penanganan tepat. Studi lain dalam jurnal JAMA Psychiatry tahun 2018 memperlihatkan korelasi tersebut.
Mayoritas perempuan yang mengalami gangguan depresi berat pada usia 2 hingga 8 bulan pasca melahirkan berisiko tetap membawa gejala tersebut hingga lebih dari 10 tahun kemudian. Tanpa adanya tindakan medis, tingkat keparahan depresi dapat tereskalasi secara signifikan.
Pada tingkat yang sangat parah, gangguan ini memicu munculnya tendensi untuk mencederai diri sendiri maupun orang lain, bahkan dapat berujung pada fatalitas. ACOG menyatakan penanganan kondisi ini dapat ditempuh lewat kombinasi terapi psikologis dan intervensi obat-obatan.
Dukungan emosional dari lingkaran keluarga inti juga memegang fungsi vital dalam proses pemulihan. Kehadiran fisik serta pemberian afirmasi positif secara konsisten dari pihak keluarga sangat membantu ibu melewati masa kritis pasca melahirkan.