Studi Temukan Kondisi Lip Tie Bayi Tidak Mengganggu Proses Menyusui
Sebuah studi terbaru mengungkapkan bahwa karakteristik anatomi lip tie atau frenulum labial pada bayi baru lahir tidak terbukti mengganggu proses atau kemampuan menyusui, dilansir dari HaiBunda pada Selasa (16/6/2026).
Penelitian yang diterbitkan di Jama Network Open tersebut melibatkan 264 pasangan ibu dan bayi di Oulu University Hospital sepanjang tahun 2023 hingga 2024 untuk menilai struktur bibir atas bayi.
Meskipun 86 persen ibu melaporkan adanya kesulitan menyusui pada beberapa hari pertama, data tindak lanjut selama enam bulan menunjukkan tidak ada kaitan antara ketebalan maupun letak frenulum dengan kendala tersebut.
Para ahli medis menyatakan bahwa jaringan ikat berbentuk segitiga yang menempelkan bibir atas bayi ke gusi ini akan menyusut secara alami seiring pertumbuhan anak dan mengoreksi dirinya sendiri saat gigi taring tumbuh.
Spesialis kedokteran menyusui, Dr. Jenny Thomas mengonfirmasi bahwa variasi bentuk fisik jaringan tersebut tidak memengaruhi fungsi mulut bayi dalam mengisap ASI.
"Bahkan anak-anak dengan kondisi bibir sumbing, dapat menyusui jika kita dapat membuat segel pada payudara," kata Dr Thomas.
Ia juga menambahkan bahwa bentuk frenulum labial akan terus berubah seiring berjalannya waktu sehingga tindakan pembedahan koreksi menjadi tidak mendesak.
"Kami tahu bahwa penampilan frenulum labial berubah seiring waktu, jadi melakukan prosedur untuk mencegah komplikasi baik dengan menyusui, berbicara, atau apa pun tidak diperlukan," kata Dr. Thomas.
Lembaga kesehatan The American Academy of Pediatrics juga menyepakati bahwa lip tie merupakan struktur mulut normal yang tidak membutuhkan intervensi medis demi meningkatkan kualitas menyusui.
Prosedur operasi pelepasan jaringan atau frenotomi dinilai berisiko memicu keengganan oral pada bayi akibat rasa sakit di area mulut, yang justru berpotensi membuat mereka semakin menolak menyusu.
Dokter anak dan neonatolog, Outi Aikio menegaskan bahwa penanganan hambatan menyusui pada bayi baru lahir harus dilakukan lewat evaluasi menyeluruh terhadap teknik perlekatan, bukan langsung memilih opsi bedah.
"Kesulitan menyusui pada bayi baru lahir harus selalu dinilai secara komprehensif," kata Outi Aikio.
Pihaknya menerangkan bahwa tidak ada bukti klinis kuat yang mendukung tindakan operasi frenulum bibir atas pada bayi sehat yang lahir cukup bulan.
"Sebab, tidak ada bukti pasti bahwa lip tie mencegah keberhasilan menyusui," kata Shand.
Para peneliti menyimpulkan bahwa kegagalan menyusui akibat frenulum bibir atas merupakan kasus yang sangat jarang terjadi, dan faktor pengalaman menyusui sebelumnya justru lebih berperan meminimalkan kendala.