Studi Ungkap Jalan Kaki 8500 Langkah Setiap Hari Ampuh Pangkas Berat Badan

Share

Aktivitas fisik sederhana seperti jalan kaki terbukti efektif untuk menjaga kebugaran sekaligus menurunkan berat badan. Sebuah studi terbaru yang diterbitkan dalam International Journal of Environmental Research and Public Health mengonfirmasi manfaat tersebut.

Riset ilmiah ini dipimpin oleh Profesor El Ghosh bersama rekan peneliti dari Italia dan Lebanon. Dikutip dari HaiBunda, tim ahli melakukan tinjauan sistematis dan meta-analisis terhadap 18 uji coba terkontrol secara acak.

Hasil akhir meta-analisis melibatkan 14 studi dengan total peserta mencapai 3.758 orang dewasa. Para partisipan memiliki usia rata-rata 53 tahun dengan Indeks Massa Tubuh (IMT) rata-rata berada di angka 31.

Seluruh peserta berasal dari berbagai negara, meliputi Inggris, Amerika Serikat, Australia, dan Jepang. Peneliti kemudian membagi mereka ke dalam dua kelompok yang berbeda untuk melihat efektivitas program.

Sebanyak 1.987 peserta mengikuti program modifikasi gaya hidup yang menggabungkan panduan diet dengan rekomendasi berjalan kaki serta pelacakan langkah harian. Sementara itu, 1.771 orang masuk kelompok kontrol yang menjalani diet mandiri atau tanpa perawatan khusus.

Pengukuran jumlah langkah harian dilakukan dalam tiga fase utama oleh tim peneliti. Evaluasi tersebut meliputi tahap awal penelitian, setelah fase penurunan berat badan (rata-rata 7,9 bulan), dan pasca-fase pemeliharaan (rata-rata 10,3 bulan).

Pada awal eksperimen, kedua kelompok menunjukkan tingkat aktivitas harian yang hampir serupa. Kelompok program modifikasi mencatat rata-rata 7.280 langkah, sedangkan kelompok kontrol berada di angka 7.180 langkah per hari.

Dampak Penambahan Langkah Kaki

Hasil analisis menunjukkan perbedaan signifikan antara kedua kelompok setelah program berjalan. Kelompok kontrol tidak memperlihatkan peningkatan aktivitas jalan kaki dan tidak mengalami pengurangan berat badan.

Sebaliknya, peserta yang mengikuti program modifikasi gaya hidup berhasil mendongkrak aktivitas mereka hingga rata-rata 8.454 langkah pada akhir fase penurunan berat badan. Perubahan kebiasaan ini berdampak langsung pada kondisi fisik mereka.

Melalui intervensi tersebut, kelompok program kehilangan rata-rata 4,39 persen dari berat badan mereka, atau setara dengan kisaran 4 kilogram (kg). Pola hidup sehat ini terus berlanjut pada fase berikutnya.

Saat memasuki fase pemeliharaan, partisipan mampu menjaga konsistensi aktivitas dengan rata-rata 8.241 langkah per hari hingga akhir penelitian. Mereka juga sukses mempertahankan penurunan berat badan jangka panjang sebesar 3,28 persen atau sekitar 3 kg.

Strategi Pencegahan Kenaikan Berat Badan

Profesor El Ghosh menyatakan bahwa temuan ini membuktikan program modifikasi gaya hidup mampu mendukung penurunan berat badan jangka panjang yang signifikan. Langkah praktis ini memadukan pengaturan pola makan dengan aktivitas fisik harian.

"Peserta harus selalu didorong untuk meningkatkan jumlah langkah mereka hingga sekitar 8.500 langkah per hari selama fase penurunan berat badan dan mempertahankan tingkat aktivitas fisik ini selama fase pemeliharaan untuk membantu mencegah mereka mengalami kenaikan berat badan kembali," ungkap Ghosh, dilansir laman Science Daily.

Strategi penambahan langkah kaki dinilai menjadi opsi yang sangat rasional untuk menjaga kestabilan berat tubuh setelah menjalani diet ketat.

"Meningkatkan jumlah langkah yang ditempuh hingga 8.500 setiap hari adalah strategi sederhana dan terjangkau untuk mencegah kenaikan berat badan kembali," sambungnya.

Kombinasi Defisit Kalori

Peneliti menarik kesimpulan bahwa pembatasan kalori memberikan dampak lebih besar selama fase penurunan berat badan awal. Sementara itu, aktivitas fisik yang tinggi berperan krusial dalam mempertahankan hasil dalam jangka panjang.

Kendati menunjukkan hasil positif, para ahli memberikan catatan bahwa penambahan jumlah langkah kaki tidak selalu berbanding lurus dengan banyaknya berat badan yang menyusut. Faktor regulasi kalori tetap memegang peranan penting.

Studi ini juga memiliki batasan karena subjek analisis hanya berfokus pada populasi dewasa dengan kondisi kelebihan berat badan atau obesitas. Data yang dihasilkan bersifat korelasi dan bukan hubungan sebab akibat langsung.

Kontributor medis ABC News, Dr. Tara Narula, menyarankan pentingnya berkonsultasi dengan tenaga medis sebelum memulai program olahraga baru.

"Tentu saja, jika kita berencana untuk melakukan program penurunan berat badan, bicarakan dengan dokter tentang apa yang tepat dalam hal gerakan, tujuan secara keseluruhan, dan an kebiasaan sehat saling membangun," kata Dr. Tara Narula, dilansir laman ABC News.

Perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten terbukti memberikan dampak psikologis dan fisik yang baik bagi tubuh.

"Semakin banyak berat badan yang kita turunkan, semakin kita ingin berolahraga, dan kita merasa lebih baik. Tetapi sangat membantu untuk mengetahui bahwa sedikit peningkatan itu mungkin sudah cukup."

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
gilang-permana-putra
Author