Stigma Micin Bikin Bodoh Terbukti Mitos Menurut Ahli Gizi

Share

Anggapan mengenai konsumsi Monosodium Glutamat (MSG) atau micin dapat menyebabkan penurunan kecerdasan dipastikan tidak memiliki landasan ilmiah.

Dikutip dari Detik Health, narasi negatif ini berakar dari kemunculan fenomena Chinese Restaurant Syndrome (CRS) pada dekade 1960-an.

Kala itu, media massa langsung mengaitkan gejala mual serta sakit kepala usai menyantap masakan restoran China dengan penggunaan penyedap rasa tersebut.

Penyederhanaan informasi tanpa investigasi mendalam terhadap bahan makanan lain memicu berkembangnya stigma bahwa micin bisa membuat seseorang menjadi bodoh.

Data konsumsi global justru menunjukkan realitas sebaliknya terkait tingkat kecerdasan masyarakat di negara konsumen MSG terbesar.

Masyarakat di negara Asia Timur seperti Jepang, Korea Selatan, dan China mencatatkan tingkat konsumsi MSG harian tertinggi di dunia.

Rata-rata asupan harian di Jepang dan Korea Selatan mencapai 1,2 hingga 1,7 gram per orang.

Angka tersebut jauh melampaui konsumsi masyarakat benua Amerika maupun Eropa yang rata-rata hanya berkisar 0,5 gram per hari.

Kendati demikian, Jepang mencatatkan skor rata-rata IQ sebesar 106,48, sementara China berada pada kisaran 104,1 hingga 107,19, dan Korea Selatan mencapai 102,35 hingga 106,43.

Penjelasan Ahli Gizi dan Hasil Riset

Dokter spesialis gizi dr. Johanes Chandrawinata, SpGK membantah adanya keterkaitan antara asupan penyedap rasa dan penurunan kognitif anak.

"Anak jadi bodoh apa karena makan micin, itu tidak ada hubungan, itu mitos mungkin ya berbagai faktor anak jadi bodoh. Karena mungkin terlalu banyak main game atau lihat tv, nonton tv, terus nggak pernah belajar," ujar dr. Johanes.

Temuan senada dipublikasikan dalam riset bertajuk 'Effect of monosodium L-glutamate (umami substance) on cognitive function in people with dementia'.

Studi terhadap 159 pasien demensia membuktikan bahwa konsumsi MSG secara rutin dalam batas wajar tidak memicu penurunan fungsi kognitif.

Penelitian tersebut bahkan menemukan indikasi bahwa MSG berpotensi membantu mempertahankan hingga meningkatkan fungsi kognitif tertentu.

Ahli gizi dr. Rita Ramayulis, DCN, M.Kes turut menegaskan bahwa MSG bukan merupakan senyawa berbahaya jika dikonsumsi sesuai aturan.

Bumbu penyedap ini diproduksi dari ekstrak bahan alami seperti tetes tebu yang melalui proses fermentasi bakteri untuk menghasilkan asam glutamat.

"Glutamat itu adalah zat gizi ya. Apakah glutamat itu racun atau berbahaya? Kita sepakat tidak beracun.

Itu zat gizi yang merupakan amino esensial," kata dr. Rita.

Batas Asupan Harian Aman

Lembaga Kesehatan Dunia (WHO) telah menetapkan batas asupan harian MSG yang aman bagi tubuh manusia, yakni 0-120 mg/kg berat badan.

Sementara itu, studi bertajuk Konsensus Monosodium Glutamate menunjukkan bahwa total asupan glutamat harian dari makanan di negara-negara Eropa berada pada rentang stabil 5-12 gram per hari.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
yoga-prasetyo-nugroho
Author