Standard Chartered Pangkas 8.000 Karyawan demi Efisiensi Teknologi AI
Standard Chartered Plc mengumumkan rencana penghapusan hampir 8.000 posisi di bidang pendukung selama empat tahun ke depan untuk memperluas penggunaan kecerdasan buatan (AI).
Langkah restrukturisasi ini menjadikan lembaga keuangan global tersebut sebagai salah satu bank pertama yang memaparkan pengurangan jumlah karyawan akibat otomatisasi teknologi.
Dilansir dari Bloombergtechnoz pada Kamis (21/5/2026), perusahaan bakal memotong lebih dari 15 persen posisi di bagian fungsi korporat pada tahun 2030 demi merampingkan proses operasional.
Bank yang berbasis di London ini tercatat memiliki 52.271 karyawan di bagian operasi back-office pada akhir tahun lalu.
"Ini bukan pemotongan biaya; ini menggantikan, dalam beberapa kasus, SDM berkualitas rendah dengan modal keuangan dan modal investasi yang kami tanamkan," kata CEO Bill Winters.
Pihak manajemen juga memastikan bahwa seluruh staf yang terdampak kebijakan ini akan mendapatkan informasi secara transparan sebelum pengurangan posisi dilakukan.
"Ia menambahkan bahwa staf yang terkena dampak akan menerima “pemberitahuan yang jelas dan baik” sebelumnya." kata Bill Winters.
Target nyata ini menempatkan Standard Chartered di barisan terdepan perusahaan keuangan yang mencari efisiensi teknologi, di mana HSBC Holdings Plc dan beberapa perusahaan Wall Street juga mempertimbangkan pemangkasan serupa.
Presiden dan COO Goldman Sachs Group Inc., John Waldron, baru-baru ini menggambarkan operasi tradisional perusahaannya sebagai “jalur perakitan manusia” yang siap untuk otomatisasi.
Walau janji otomatisasi menyeruak, beberapa ahli mempertanyakan keabsahan langkah ini karena alat AI dinilai belum mencapai tahap yang bisa menyebabkan pemangkasan signifikan di pasar tenaga kerja.
Pengumuman tersebut disampaikan saat Standard Chartered memulai pertemuan investor dan analis di Hong Kong pada hari Selasa untuk memaparkan kerangka keuangan jangka menengah dan prioritas strategis bank.
Seiring dengan perombakan manajemen senior, bank menargetkan peningkatan 3 poin persentase dalam return on tangible equity menjadi lebih dari 15 persen pada 2028 dan sekitar 18 persen pada 2030.
Kebijakan PHK ini diproyeksikan mampu mendorong peningkatan produktivitas sekaligus menaikkan pendapatan per karyawan sekitar 20 persen pada tahun 2028.
"We tidak mengalami pengurangan karyawan, tetapi kami melakukan pengurangan peran pekerjaan demi penggunaan mesin, dan hal itu akan semakin cepat seiring kami melangkah ke era AI," kata Bill Winters.
Pertemuan dengan investor ini digelar setelah laba bank mencapai rekor dan melampaui perkiraan analis, didukung oleh arus dana baru bersih sebesar US$18 miliar ke bisnis wealth.
Pencapaian tersebut berhasil meredam dampak dari penyesuaian manajemen pencegahan senilai US$190 juta yang disisihkan untuk mengatasi risiko konflik di Timur Tengah.
Program restrukturisasi bernama "Fit for Growth" yang terdiri dari ratusan proyek individu untuk menghasilkan penghematan US$1,5 miliar dilaporkan sudah hampir selesai.
Saham perusahaan sempat mengalami kemunduran akibat kepergian mendadak CFO Diego De Giorgi dan konflik Timur Tengah, sebelum akhirnya pulih secara signifikan.
Diego De Giorgi sebelumnya dinilai sebagai kandidat kuat pengganti Winters, hingga akhirnya lembaga keuangan tersebut resmi menunjuk Manus Costello sebagai CFO baru awal pekan ini.