Spermageddon Soroti Fenomena Penurunan Sperma dan Kesuburan Pria
Istilah 'spermageddon' menjadi perbincangan hangat menyusul kekhawatiran terkait penurunan kualitas serta jumlah sperma pria di berbagai negara. Fenomena ini memicu kecemasan global terhadap kesehatan reproduksi pria dan dampaknya pada tingkat kelahiran masa depan.
Para ilmuwan memberi peringatan mengenai potensi krisis kesuburan pria yang sedang berlangsung. Seperti dilansir dari HaiBunda, data menunjukkan rata-rata kadar testosteron pria mengalami penurunan hingga separuh dalam kurun waktu 50 tahun terakhir.
Rangkaian riset mengenai kesuburan pria mencatat penurunan drastis pada jumlah sperma di tingkat global. Tim peneliti yang dipimpin Profesor Hagai Levine mendokumentasikan temuan tersebut hingga memicu istilah 'spermageddon'.
"Sungguh mengejutkan bahwa kadar testosteron telah menurun hingga 50 persen. Ini angka yang sangat besar," kata Levine.
Hasil studi ini mengarahkan perhatian pada ancaman bahan kimia pengganggu hormon endokrin, polusi udara, hingga pemanasan global. Meski demikian, fenomena 'spermageddon' masih menuai perdebatan di antara para ahli.
Profesor Shanna Swan memproyeksikan jumlah sperma dapat mencapai angka nol pada tahun 2045. Namun, pandangan berbeda disampaikan oleh profesor andrologi dari University of Manchester, Allan Pacey.
"Ada kecenderungan untuk memilih data yang mendukung sudut pandang ini," kata Pacey.
"Bagi mereka yang berpikir dunia sedang menuju kehancuran dan kita semua akan binasa, penurunan testosteron dan jumlah sperma menjadi masuk akal," ujar Pacey.
Melalui analisis terbarunya mengenai jumlah sperma, kelompok peneliti Pacey tidak menemukan bukti penurunan yang signifikan. Mereka justru mencatat adanya pemburukan pada kualitas sperma, sementara upaya replikasi riset lain menghasilkan temuan bervariasi.
"Apakah saya pikir ada masalah dengan infertilitas pria? Ya. Tetapi penurunan jumlah sperma bukanlah sesuatu yang saya khawatirkan," kata Pacey.
Penurunan hormon testosteron pada pria dapat dipicu oleh sejumlah kondisi fisik. Kelebihan lemak tubuh menjadi salah satu penyebab utama karena mempercepat konversi testosteron menjadi estrogen sekaligus mengganggu sinyal hormon di otak.
Studi mencatat setiap kenaikan satu poin Indeks Massa Tubuh (IMT) berasosiasi dengan penurunan testosteron sebesar 2 persen. Kondisi tersebut diperkirakan berdampak langsung pada penurunan produksi sperma.
Berat badan berlebih juga meningkatkan suhu skrotum yang idealnya berada beberapa derajat di bawah suhu inti tubuh. Selain itu, masalah medis seperti diabetes terbukti memicu penurunan testosteron, keretakan DNA sperma, hingga disfungsi ereksi.
"Obesitas bisa dengan mudah menjelaskan seluruh penurunan tersebut," kata profesor Channa Jayasena, dari Imperial College London.
"Masih ada tanda tanya mengenai apakah hal-hal seperti polusi dan faktor lingkungan juga turut berkontribusi," kata Jayasena.
Riset selama satu dekade terakhir terus menguji potensi dampak kontaminan lingkungan terhadap parameter kesuburan. Keberadaan mikroplastik telah teridentifikasi dalam cairan mani, sementara paparan senyawa PFAS pada sampel uji hewan menunjukkan risiko kelainan sperma pada keturunannya.
"Ada penelitian yang menunjukkan keberadaan mikroplastik di testis dan kesimpulannya pasti sangat buruk," kata ahli endokrinologi anak di University of Edinburgh, profesor Rod Mitchell.
"Tetapi mikroplastik itu bisa saja hanya berada di sana dalam keadaan tidak aktif dan tidak melakukan apa pun," ujar Mitchell.
Sebuah riset di Italia mengaitkan dampak polusi dengan ukuran organ intim pria yang lebih kecil. Di sisi lain, laporan dalam World Journal of Men's Health tahun 2023 mencatat kenaikan rata-rata panjang penis ereksi sebesar 24 persen selama 29 tahun terakhir, yang diduga dipengaruhi oleh bahan kimia pengganggu endokrin.