S&P Pertahankan Peringkat Utang Indonesia, IHSG Menguat Signifikan
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat signifikan pada penutupan perdagangan, Senin (13/7/2026). Sentimen ini dinilai mengembalikan kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia dalam jangka pendek.
Dilansir dari Detik Finance, kebangkitan kepercayaan pasar dipicu oleh keputusan lembaga pemeringkat internasional S&P Global Ratings. Lembaga tersebut mempertahankan peringkat utang Indonesia di level BBB untuk jangka panjang dan A-2 untuk jangka pendek dengan prospek stabil.
Hingga sore ini, IHSG melonjak 1,92% menuju level 6.037,84. Indeks saham domestik tersebut bergerak naik dari posisi 5.934,71 yang tercatat pada pembukaan perdagangan pagi hari.
"Kami juga menilai keputusan ini membantu kepercayaan investor bagi IHSG dalam jangka pendek," ungkap MNC Sekuritas, Senin (13/7/2026).
Keputusan S&P diproyeksikan mampu memperkuat persepsi terhadap stabilitas fundamental ekonomi nasional. Hal tersebut berpotensi menekan premi risiko tetap rendah sekaligus menopang stabilitas yield Surat Utang Negara (SUN).
Langkah ini juga diprediksi akan memperkokoh tren arus modal asing yang masuk ke pasar obligasi. Aliran modal tersebut diketahui mulai terbentuk sejak awal Juli.
Di sisi lain, Phintraco Sekuritas menilai keputusan S&P disambut positif oleh pelaku pasar. Investor sebelumnya sempat mengkhawatirkan adanya penurunan peringkat utang maupun prospek Indonesia.
"Sentimen positif berasal dari S&P Global Ratings yang menegaskan peringkat kredit jangka panjang Indonesia pada BBB dan jangka pendek pada A-2. Prospek peringkat jangka panjang masih dipertahankan di Stabil. Hal ini direspon positif oleh pasar yang sebelumnya khawatir jika peringkat atau prospek Indonesia diturunkan," jelas Phintraco Sekuritas dalam analisisnya.
Meskipun pasar saham menguat, mata uang Rupiah di pasar spot ditutup melemah. Rupiah terkoreksi sebesar 0,24% ke posisi Rp 18.109/US$.
Bursa Efek Indonesia (BEI) membukukan volume perdagangan sebanyak 26,30 miliar saham dengan nilai transaksi mencapai Rp 12,13 triliun. Frekuensi perdagangan di lantai bursa tercatat sebanyak 2.701.166 kali sepanjang hari.
Aktivitas positif juga melanda indeks LQ45 yang menguat 2,23% ke posisi 602.372. Secara keseluruhan, terdapat 377 saham yang menguat, 250 saham melemah, dan 167 saham lainnya bergerak stagnan.
S&P Global Ratings menilai indikator fiskal dan eksternal Indonesia bersifat sementara. Lembaga tersebut memproyeksikan kondisi ini berpotensi membaik dalam beberapa tahun ke depan seiring kenaikan harga komoditas dan optimalisasi penerimaan negara.
"Pada 13 Juli 2026, S&P Global Ratings menegaskan peringkat kredit Indonesia pada level BBB untuk jangka panjang dan A-2 untuk jangka pendek. Outlook peringkat jangka panjang tetap stabil," tulis laporan S&P, Senin (13/7/2026).