Smelter Indonesia Hadapi Kenaikan Biaya Produksi Saat Nikel Bullish

Share

Forum Industri Nikel Indonesia mengumumkan bahwa industri smelter nikel domestik sedang mengalami tekanan berat akibat lonjakan biaya produksi dan kenaikan harga bijih. Kondisi ini terjadi di Jakarta pada Rabu, 10 Juni 2026, tepat ketika tren harga logam dasar global justru sedang menguat.

Kenaikan harga logam nikel di pasar dunia dilansir dari Bloomberg Technoz dipengaruhi oleh pemangkasan produksi di Indonesia serta revisi formula harga patokan mineral nikel. Namun, para pelaku usaha di dalam negeri harus menanggung beban ganda dari sektor energi dan bahan baku yang melonjak signifikan.

Ketua Umum Forum Industri Nikel Indonesia Arif Perdanakusumah menjelaskan situasi yang menimpa para pelaku industri saat ini.

"Jadi kita harus melihatnya itu secara holistik, tidak hanya dari kenaikan harga komoditas yang mana itu lebih dipicu karena sentimen sesaat dan juga dipicu karena adanya kekurangan pasokan, tetapi tidak melihat isu secara keseluruhan dari sisi biaya produksi," kata Arif Perdanakusumah, Ketua Umum Forum Industri Nikel Indonesia.

Penerapan formula harga patokan mineral yang baru telah mengerek biaya operasional smelter pirometalurgi berteknologi rotary kiln electric furnace hingga US$600 per ton. Lonjakan ini diperparah oleh naiknya harga bahan bakar solar industri serta batu bara untuk pembangkit listrik.

"Kemudian juga dari energi, biaya energi. Biaya energi ini apalagi kalau teknologi pirometalurgi itu kan membutuhkan tidak hanya bahan bakar minyak bumi ya, tetapi juga batu bara untuk PLTU-PLTU. Nah, itu kan mengalami kenaikan," ujar Arif Perdanakusumah, Ketua Umum Forum Industri Nikel Indonesia.

Di sisi lain, smelter hidrometalurgi berbasis high pressure acid leach mencatat kenaikan biaya operasional mencapai US$2.400 hingga US$2.600 per ton sejak formula baru berlaku. Sektor ini sangat terdampak oleh harga sulfur internasional yang telah melambung tinggi.

"Jadi margin yang ada di pelaku usaha HPAL ini juga sudah sangat rentan sekali. Jangan sampai kebijakan-kebijakan fiskal jangka pendek yang akan keluar nantinya justru akan memperburuk kondisi ini," tegas Arif Perdanakusumah, Ketua Umum Forum Industri Nikel Indonesia.

Shanghai Metals Market memprediksi harga bijih nikel kadar rendah lokal akan melonjak ke US$48,18 per wet metric ton karena pemerintah menghitung mineral bawaan. Formula baru membuat harga bijih kadar 1,2% naik 151% dari harga lama yang berkisar US$16 sampai US$17 per wet metric ton.

Sementara itu, harga patokan mineral untuk bijih nikel saprolit berkadar 1,5% diproyeksikan berada pada tingkat US$57,13 per wet metric ton. Angka tersebut tercatat masih berada di bawah rata-rata harga pasar bijih saprolit saat ini sebesar US$70,7 per wet metric ton.

Kebutuhan sulfur untuk memproduksi 1 ton mixed hydroxide precipitate sebagai bahan baku baterai kendaraan listrik mencapai 11,7 ton. Harga sulfur Timur Tengah melonjak tinggi dari US$170 per ton pada 2025 menjadi US$815 hingga US$820 per ton pada Mei 2026.

Indonesia mengimpor lebih dari 75% kebutuhan sulfur dari kawasan Timur Tengah sepanjang tahun 2025. Data menunjukkan pasokan terbesar berasal dari Arab Saudi sebanyak 1,76 juta ton, disusul Qatar 967.000 ton, dan Uni Emirat Arab sebesar 918.000 ton.

Harga nikel di London Metal Exchange terpantau bertahan pada level US$18.064 per ton pada Rabu pagi. Nilai tersebut menunjukkan penurunan sebesar 1,51% jika dibandingkan dengan posisi penutupan pada hari sebelumnya.

Follow publika.id on Google News Follow
Topik Terkait: ekonomi Energi nikel smelter
Editors Team
gilang-permana-putra
Author