SKK Migas Targetkan Pengeboran 200 Sumur Baru Sepanjang Tahun 2026
Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menetapkan target program pengeboran sumur migas masing-masing sebanyak 100 sumur eksplorasi dan eksploitasi sepanjang tahun 2026. Target tersebut disampaikan dalam agenda Indonesian Petroleum Association (IPA) Convex ke-50 di ICE BSD pada Jumat (22/5/2026), sebagaimana dilansir dari Bloomberg Technoz.
Langkah ini diambil guna mendukung target produksi minyak mentah sebesar 610.000 barel per hari (bopd), yang berarti mengalami kenaikan sebesar 5.000 bopd dari target pada tahun 2025. Pada tahun lalu, SKK Migas bersama 157 kontraktor telah menyelesaikan 832 pengeboran sumur pengembangan dan 39 sumur eksplorasi.
Peningkatan target tahun ini turut ditopang oleh operasional dua proyek besar, yaitu Terubuk-Forel dengan kapasitas produksi 20.000 bopd serta Banyu Urip infill Clastic dengan produksi sebesar 30.000 bopd. SKK Migas juga menambah agenda kerja yang mencakup 100 kegiatan fraktur multi-lapisan.
Hingga Mei 2026, pihak SKK Migas mencatat telah mengidentifikasi 63 sumur eksplorasi dan 52 sumur eksploitasi, sementara sisanya masih harus dikejar. Selain itu, sebanyak 51 kegiatan multi-stage fracturing telah dieksekusi dari total target keseluruhan.
Deputi Eksplorasi, Pengembangan, dan Manajemen Wilayah Kerja SKK Migas, Rikky Rahmat Firdaus memberikan penjelasan mengenai perintah pimpinan terkait program kerja tersebut.
"Ketua kami [Kepala SKK Migas] memberi kami perintah untuk memiliki 100 sumur eksplorasi dan juga 100 [sumur] pengembangan," ungkap Rikky Rahmat Firdaus.
Terkait anggaran, SKK Migas meminta para kontraktor melakukan rasionalisasi kembali karena realisasi serapan anggaran dalam tiga tahun terakhir hanya berkisar antara 85% hingga 90%.
"Jadi, ada penyangga anggaran 10% hingga 15% yang harus kita selesaikan untuk program seperti triple 100 ini," kata Rikky Rahmat Firdaus.
Guna mengantisipasi penambahan target tersebut, kontraktor didorong untuk meningkatkan kapasitas teknologi dan logistik agar seluruh komitmen pengeboran sumur dapat diselesaikan tepat waktu.
"Kami enggak ingin yang sudah contracted drilling rig yang ada di program 832 sama 39 terganggu. Makanya kita panggil provider teknologi tambah kapasitas, tambah logistik di sini," tandas Rikky Rahmat Firdaus.
Dalam pelaksanaan program ini, sejumlah strategi modern diterapkan seperti penggunaan Multi-Stage Fracturing (MSF) dan Enhanced Oil Recovery (EOR). SKK Migas juga mengoptimalkan pengelolaan sumur tua, sumur idle, sumur masyarakat, serta melakukan pemetaan mendalam terhadap kebutuhan barang pendukung operasional.
Kendati demikian, Rikky mengakui adanya tantangan berupa proses perizinan, rantai pasok pengadaan, dan koordinasi lintas lembaga yang belum terintegrasi. Masalah Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) juga menjadi kendala karena harga barang domestik sering kali lebih mahal daripada produk impor.
Untuk mengatasi kendala barang yang belum diproduksi di dalam negeri, SKK Migas mewajibkan vendor membangun fasilitas produksi dengan minimal penggunaan produk lokal sebesar 50%. Kebijakan impor baru akan diizinkan apabila kewajiban pembangunan fasilitas dan syarat minimal produk dalam negeri tersebut tidak dapat terpenuhi.