Siloam Oncology Summit Kenalkan Terapi Y90 untuk Kanker Hati yang Sulit Dioperasi

Share

Kanker hati masih menjadi salah satu tantangan besar dalam dunia medis modern karena banyak pasien baru mengetahui penyakitnya saat ukuran tumor sudah membesar. Dilansir dari Detik Health, tidak sedikit pasien di Indonesia datang ketika fungsi organ hati sudah menurun atau berada pada tahap yang tidak memungkinkan untuk langsung dioperasi.

Padahal, tindakan operasi maupun transplantasi hati selama ini menjadi opsi terapi dengan peluang kesembuhan paling besar bagi penderita kanker hati. Di tengah tantangan tersebut, perkembangan interventional oncology mulai membuka harapan baru melalui kehadiran teknologi bernama terapi radioembolization Yttrium-90 atau Y90.

Senior Consultant dari Singapore General Hospital, Assoc. Prof. Too Chow Wei menjelaskan bahwa teknologi Y90 bekerja dengan cara menghantarkan radiasi secara langsung ke tumor hati melalui pembuluh darah.

"Jadi kami menyuntikkan partikel radioaktif langsung ke pembuluh darah yang memberi makan tumor," jelasnya saat berbincang dengan detikcom di Jakarta Pusat (23/5/2026).

Berbeda dari radioterapi konvensional yang memancarkan radiasi dari luar tubuh, metode Y90 menggunakan partikel mikroskopik yang dialirkan langsung menuju sasaran lewat kateter. Partikel tersebut mengandung zat radioaktif Yttrium-90 yang memancarkan radiasi lokal di area kanker secara terarah sehingga jaringan sehat di sekitarnya bisa lebih terlindungi.

Jangkauan radiasi partikel ini relatif pendek, yaitu sekitar beberapa milimeter saja. Kondisi tersebut memungkinkan tim dokter memberikan dosis tinggi langsung ke pusat tumor tanpa terlalu banyak merusak bagian organ hati yang masih berfungsi baik.

Masalah terbesar pada kasus kanker hati bukan sekadar ukuran tumor, melainkan juga volume sisa hati pasien yang harus dipastikan cukup kuat untuk menopang fungsi tubuh pascaoperasi. Jika bagian hati sehat yang tersisa diperkirakan terlalu kecil, risiko terjadinya gagal hati setelah pembedahan akan menjadi terlalu besar.

Menurut Assoc. Prof. Too Chow Wei, terapi Y90 bisa mengatasi situasi tersebut secara unik karena sisi hati yang terkena tumor akan mengecil secara perlahan, sementara sisi yang sehat justru bertumbuh. Kondisi pertumbuhan jaringan sehat ini dikenal medis dengan istilah future liver remnant atau FLR.

Ketika volume hati sehat sudah mencapai batas aman, pasien yang sebelumnya dianggap belum layak operasi bisa kembali dipertimbangkan untuk menjalani pembedahan kuratif.

"Pasien yang sebelumnya tidak punya cukup sisa hati, setelah Y90 bisa saja akhirnya memiliki cukup liver untuk dilakukan reseksi," katanya.

Pendekatan medis ini dikenal sebagai conversion therapy, yaitu penanganan untuk mengubah kondisi kanker yang awalnya tidak dapat dioperasi menjadi bisa ditangani. Selain pembedahan, metode Y90 juga kerap digunakan sebagai langkah downstaging di Amerika Serikat untuk mengecilkan tumor agar pasien memenuhi syarat transplantasi hati.

Efek Samping dan Proses Pemetaan Pembuluh Darah

Assoc. Prof. Too Chow Wei menyatakan bahwa ketakutan masyarakat akan efek samping berat radiasi seperti rambut rontok atau lemas berkepanjangan tidak selalu terjadi pada pasien Y90. Sebagian besar pasien yang menjalani tindakan ini bahkan sudah diperbolehkan pulang pada hari yang sama.

Keluhan yang paling sering muncul pascatindakan biasanya terbatas pada rasa lelah, mual ringan, atau nyeri perut yang bersifat sementara. Komplikasi berat dapat diminimalkan melalui persiapan yang matang, termasuk proses pemetaan pembuluh darah sebelum tindakan utama dilakukan.

Dokter akan memastikan partikel radioaktif benar-benar menuju target tumor dan tidak bocor ke organ tubuh lain seperti lambung atau paru-paru menggunakan zat khusus.

"Kalau mapping dilakukan dengan baik, risiko efek samping serius sebenarnya cukup rendah," jelasnya.

Akses Pengobatan Personal dan Pentingnya Deteksi Dini

Akses terapi Y90 di Indonesia saat ini masih tergolong baru karena membutuhkan izin khusus terkait radiofarmaka serta kesiapan tim multidisiplin yang terlatih. Assoc. Prof. Too Chow Wei menilai forum seperti Siloam Oncology Summit sangat membantu memperkenalkan teknologi penanganan kanker modern ini kepada para tenaga kesehatan domestik.

Ia menambahkan bahwa penanganan kanker saat ini bergerak menuju personalized treatment atau precision oncology, di mana pemilihan terapi disesuaikan dengan karakter penyakit pasien. Kendati teknologi kedokteran terus berkembang, langkah deteksi dini tetap menjadi faktor paling menentukan dalam keberhasilan pengobatan kanker hati.

Mochtar Riady Comprehensive Cancer Center (MRCCC) Siloam Semanggi kini hadir sebagai rumah sakit rujukan kanker di Indonesia dan Asia Tenggara yang menerapkan pendekatan Multidisciplinary Team (MDT). Layanan terintegrasi dari deteksi dini hingga pengobatan menyeluruh ini menjadi komitmen untuk menghadirkan fasilitas kesehatan berkualitas tanpa pasien harus pergi ke luar negeri.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
danto-wijaya-kusuma
Author