Sektor Barang Baku dan Energi Tekan IHSG Sesi I

Share

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) mengalami penurunan sebesar 38,50 poin atau 0,60 persen ke posisi 6.332,18 pada penutupan perdagangan sesi I hari Rabu (20/05) akibat tekanan dari saham-saham sektor barang baku dan energi.

Kondisi ini berbalik dengan indeks LQ45 yang berisi 45 saham unggulan karena justru menguat tipis 0,23 poin atau 0,04 persen menuju level 635,05. Aktivitas pasar mencatatkan sebanyak 1.600.448 kali transaksi dengan volume 27,55 miliar lembar saham senilai Rp13,67 triliun, di mana 521 saham melemah, 165 saham menguat, dan 128 saham stagnan.

Sembilan sektor di IDX-IC bergerak turun dipimpin sektor transportasi & logistik yang merosot 4,12 persen, disusul sektor barang baku sebesar 4,07 persen serta sektor energi sebesar 2,73 persen. Saham INTD, ZONE, APIC, MORA, dan INDR menjadi penguat terbesar, sedangkan UANG, RLCO, TPIA, WBSA, dan SMMT menjadi pelemah terbesar.

Terdapat sejumlah faktor domestik dan global yang memengaruhi dinamika pasar modal saat ini, terutama terkait dengan arah kebijakan fiskal pemerintah serta sentimen suku bunga luar negeri.

"Pasar mencermati pidato Presiden terkait arah kebijakan ekonomi dan fiskal ke depan, termasuk pembentukan badan khusus ekspor komoditas yang memicu kekhawatiran di saham-saham berbasis komoditas, karena pasar khawatir ada potensi intervensi terhadap mekanisme ekspor maupun margin emiten." ujar Pengamat Pasar Modal Elandry Pratama saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Rabu.

Para pemodal di dalam negeri juga memilih menunggu pengumuman resmi mengenai besaran BI-Rate dalam Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang berlangsung pada siang hari ini.

"Pasar cukup sensitif terhadap arah kebijakan moneter karena berkaitan langsung dengan stabilitas rupiah dan arus modal asing," ujar Elandry.

Rencana penyesuaian anggaran untuk program Makan Bergizi Gratis dari semula Rp335 triliun menjadi Rp268 triliun sebenarnya direspons positif oleh pasar karena dinilai menjaga disiplin APBN.

"Namun sentimen tersebut belum cukup kuat menahan tekanan jual pasar secara keseluruhan," ujar Elandry.

Faktor eksternal seperti ketidakpastian suku bunga The Fed dan penguatan dolar AS juga ikut memicu investor global untuk lebih selektif dalam menempatkan dana di emerging markets.

"Pasar juga masih dibayangi kekhawatiran perlambatan ekonomi global dan tensi geopolitik yang membuat appetite terhadap aset berisiko menurun," ujar Elandry.

Hal tersebut membuat para pelaku pasar luar negeri memilih untuk merealisasikan keuntungan terlebih dahulu pada saham-saham berkapitalisasi besar.

"Investor asing masih akan sangat bergantung pada stabilitas Rupiah, arah BI Rate, serta persepsi terhadap kredibilitas fiskal pemerintah ke depan. Jika rupiah stabil dan tekanan global mulai mereda, peluang foreign inflow kembali terbuka," ujar Elandry.

Meski IHSG diproyeksikan akan bergerak mendatar cenderung melemah terbatas dalam jangka pendek, peluang penguatan secara teknikal dinilai masih ada.

"Saya melihat sektor defensif, perbankan besar, konsumsi domestik, serta saham dengan fundamental kuat masih akan menjadi pilihan utama investor dalam kondisi pasar seperti saat ini," ujar Elandry.

Follow publika.id on Google News Follow
Topik Terkait: BEI ihsg pasar modal saham
Editors Team
hendra-kurniawan-saputra
Author