Investor Asing Borong Saham BBRI dan BBCA Saat IHSG Menguat

Share

Investor asing mencatat aksi beli bersih atau net buy sebesar Rp 2,23 triliun di pasar saham Indonesia selama pekan perdagangan 18-21 Agustus 2026, khususnya di saham perbankan dan komoditas, yang mendorong Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menembus level 6.500.

IHSG ditutup menguat di level 6.525,69 pada perdagangan Jumat (21/8/2026), naik 0,37% dibandingkan hari sebelumnya, didukung oleh saham-saham bank BUMN dan komoditas yang menjadi favorit investor asing, menurut data dari Stockbit.

PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menjadi saham dengan net buy asing terbesar senilai Rp 745,3 miliar, diikuti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan Rp 409,1 miliar. Saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) juga dibeli bersih senilai Rp 38,6 miliar.

Selain itu, saham berbasis komoditas seperti PT Amman Mineral Internasional (AMMN) Rp 329,1 miliar dan PT Aneka Tambang (ANTM) Rp 251,2 miliar juga masuk dalam daftar saham yang diburu asing pekan ini.

Data sepanjang Agustus 3-21 juga menunjukkan akumulasi net buy asing terbesar di saham BBRI sebesar Rp 1,61 triliun, mengungguli saham lain seperti BBCA Rp 771 miliar dan PT Timah Tbk (TINS) Rp 732,8 miliar, menurut Investor Daily dan aplikasi Stockbit Sekuritas.

Pada penutupan Jumat (21/8/2026), harga saham BBRI naik 2,87% ke Rp 3.230 dengan net buy asing harian mencapai Rp 628,49 miliar, mencatat kenaikan akumulatif 6,95% dalam sebulan terakhir.

KB Valbury Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli untuk saham BBRI dengan target harga Rp 4.010 berdasarkan model Gordon Growth, menilai saham BBRI saat ini diperdagangkan dengan valuasi murah di level price to book value 1,2 kali untuk proyeksi 2026.

Potensi pertumbuhan kredit yang melampaui ekspektasi, penyesuaian imbal hasil kredit, serta penurunan cost of credit dianggap sebagai katalis positif bagi kinerja BBRI, meski risiko pertumbuhan kredit melambat dan tekanan nilai tukar rupiah tetap ada, menurut laporan KB Valbury.

Sentimen eksternal seperti konflik AS-Iran, pergerakan yield US Treasury, dan risalah The Fed masih menjadi perhatian pasar, sementara investor menunggu rilis data Neraca Pembayaran Indonesia dan Transaksi Berjalan kuartal II-2026 dari Bank Indonesia yang akan mempengaruhi aliran modal asing selanjutnya.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
gilang-permana-putra
Author