Sejarah Panjang Rempah Vanila Hingga Penemuan Metode Penyerbukan

Share

Penggunaan vanila kini telah meluas ke berbagai produk konsumsi harian, mulai dari makanan hingga pembersih. Kondisi ini dipicu oleh keberadaan vanila sintetis yang lebih murah dan gampang didapat, seperti dilansir dari Detikcom. Meski vanila sintetis memberi kesan biasa pada frasa vanila, tanaman anggrek vanili asli pada dasarnya sangat kompleks.

Rempah ini menempati urutan kedua termahal di dunia setelah safron, dengan harga berkisar 90 hingga 550 euro atau sekitar Rp1,8 juta hingga Rp11,3 juta per kilogram. Proses budidaya tanaman merambat tersebut membutuhkan tenaga kerja intensif. Secara kimiawi, vanila alami menyimpan lebih dari 200 senyawa aromatik yang menghasilkan aroma khas.

Catatan sejarah menunjukkan bahwa asal-usul vanili bermula dari wilayah Mesoamerika kuno. Tanaman anggrek bernama latin Vanilla planifolia tersebut tumbuh liar di kawasan hutan tropis.

Masyarakat adat setempat memberi nama yang berbeda untuk tanaman ini. Suku Mexica menyebutnya tlilxochitl, suku Totonac menamainya xanat, dan suku Maya memanggilnya sisbic. Vanili bernilai tinggi bagi peradaban tersebut karena dimanfaatkan untuk obat, ritual, pengharum kuil, hingga campuran minuman cokelat. Suku Totonac di Veracruz, Meksiko, tercatat sebagai kelompok pertama yang membudidayakannya.

Saat suku Aztek menaklukkan suku Totonac, vanili dijadikan upeti untuk memberi rasa pada xocolatl, minuman kakao sakral bagi kaum elite dan prajurit. Kaisar Aztek Moctezuma Xocoyotzin kemudian menyuguhkan minuman tersebut kepada pasukan Spanyol pimpinan Hernan Cortes pada 1519. Pemerintah kolonial Spanyol lantas membawa vanili ke Eropa melalui resep cokelat kerajaan. Tanaman ini kemudian menyebar ke istana Prancis dan Inggris sebagai penyedap manisan serta kue.

Upaya membudidayakan vanili di kebun raya Eropa sempat mengalami kendala besar karena bunga tanaman tidak pernah berbuah. Pemerintah kolonial juga membawa tanaman ini ke India, Jawa, Filipina, dan Pulau Reunion, tetapi tetap gagal menghasilkan polong vanili selama hampir tiga abad. Teka-teki tersebut baru terungkap pada 1836 saat ahli hortikultura Belgia, Charles Morren, menemukan bahwa lebah Melipona tanpa sengat merupakan penyerbuk alaminya.

Namun, metode penyerbukan manual yang dicoba Morren di laboratorium masih terlalu rumit untuk diterapkan secara massal. Solusi praktis akhirnya ditemukan pada 1841 oleh Edmond Albius, seorang anak laki-laki berusia 12 tahun yang diperbudak di Pulau Reunion. Albius menggunakan ibu jari dan serpihan kayu kecil untuk membuka selaput pemisah serbuk sari dan putik, lalu menempelkan keduanya.

Teknik sederhana Albius berhasil membuat anggrek vanila menghasilkan buah dan kemudian dipakai sebagai standar universal industri vanili global. Biji vanili yang ditanam di wilayah koloni Prancis tersebut selanjutnya dikenal dengan sebutan vanili Bourbon.

Penemuan itu mendorong Pulau Reunion mendominasi pasar global, sebelum Prancis menyebarkan metodenya ke Madagaskar. Penulis buku "Vanilla: The History of an Extraordinary Bean" (2025), Eric T. Jennings, mengonfirmasi bahwa penyerbukan manual tersebut memerlukan ketelitian tinggi karena bunga vanili hanya mekar selama satu hari.

Meski berhasil mengubah masa depan pertanian dan menghindarkan Reunion dari monokultur tebu, Albius tidak pernah mendapat keuntungan finansial dari penemuannya. Ia meninggal dalam kemiskinan pada 1880 di usia 51 tahun. Seiring berjalannya waktu, ahli kimia berhasil mengisolasi senyawa vanilin pada 1858 dan menyintesisnya secara massal pada 1874.

Kehadiran vanilin sintetis yang murah kemudian mengubah persepsi publik terhadap rasa vanila menjadi sesuatu yang umum dan hambar, sangat berbeda dibanding biji vanili asli.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
melinda-putri-handayani
Author