Samsung Proyeksikan Laba Operasional Kuartal Kedua Melonjak 18 Kali Lipat

Share

Samsung Electronics Co. diproyeksikan akan melaporkan lonjakan laba operasional awal sebesar 18 kali lipat menjadi 84,3 triliun won atau setara Rp989 triliun untuk kuartal yang berakhir pada Juni, dilansir dari Bloombergtechnoz pada Senin (6/7/2026).

Lonjakan laba yang melampaui total perolehan sepanjang tahun 2025 tersebut dipicu oleh tingginya permintaan global terhadap chip memori berkinerja tinggi untuk kebutuhan teknologi kecerdasan buatan (AI). Pendapatan produsen chip terbesar di dunia ini juga diperkirakan melonjak 127 persen menjadi rekor baru sebesar 169 triliun won.

Kenaikan harga rata-rata komoditas memori turut mendongkrak margin keuntungan, dengan harga jual rata-rata DRAM naik lebih dari 40 persen dan NAND melonjak lebih dari 50 persen pada kuartal April-Juni dibandingkan kuartal sebelumnya.

Pertumbuhan yang masif ini terjadi di tengah fluktuasi tajam saham semikonduktor global akibat kekhawatiran pasar terkait potensi kelebihan kapasitas serta hasil investasi besar-besaran di bidang AI.

"Laporan keuangan ini dirilis tepat pada saat pasar mempertanyakan kedua sisi perdagangan memori, di mana rencana komputasi Meta menimbulkan keraguan mengenai permintaan, sementara pembicaraan Apple dengan pemasok Tiongkok mengisyaratkan adanya celah dalam kelangkaan pasokan. Hasil yang mendekati konsensus akan menyelesaikan perdebatan ini dengan menguntungkan Samsung," kata Dave Mazza, CEO Roundhill Financial.

Mazza menilai bahwa kinerja keuangan teranyar dari raksasa teknologi asal Korea Selatan ini memegang peranan krusial untuk meyakinkan kembali para investor di tengah ketidakpastian pasar makro.

Di sisi lain, proyeksi keuangan ini dinilai menjadi indikator penting bagi pergerakan sektor teknologi global dalam beberapa bulan ke depan.

"Laporan laba awal ini akan menjadi “pemicu utama” bagi saham-saham chip global, memberikan gambaran soal metrik seperti permintaan memori bandwidth tinggi dan penetapan harga," kata Jung In Yun, CEO Fibonacci Asset Management Global.

Kendati pasar sedang mengalami volatilitas tinggi, para pelaku industri terus mencermati pergerakan harga memori yang secara historis memiliki siklus tersendiri terhadap performa saham perusahaan.

"Saham-saham memori secara tradisional mencapai puncaknya beberapa bulan sebelum harga memori mencapai puncak siklusnya. Pelemahan atau perlambatan laju kenaikan harga memori dapat menandakan risiko penurunan bagi saham-saham memori," kata Jian Shi Cortesi, manajer dana di Gam Investment Management.

Meskipun saham Samsung sempat turun hampir 9 persen dalam lima sesi perdagangan hingga Jumat kemarin, sejumlah analis pialang terkemuka tetap mempertahankan pandangan optimistis mereka terhadap fundamental perusahaan.

"Walau ada kekhawatiran pasar mengenai kelebihan kapasitas komputasi AI yang dipicu oleh Meta, kami memandang penurunan harga saham baru-baru ini sebagai koreksi teknis," tulis para analis Citigroup yang dipimpin oleh Peter Lee dalam catatan tanggal 2 Juli.

"Kami percaya bahwa fundamental memori tetap kuat dan harga DRAM server telah menunjukkan kinerja yang lebih baik berkat permintaan CPU yang kuat," tulis Peter Lee menambahkan.

Saat ini, Samsung bersama SK Group tengah merencanakan ekspansi kapasitas secara agresif melalui pembangunan masing-masing dua pabrik chip di wilayah barat daya dengan total investasi mencapai 800 triliun won.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
farhan-dwi-ramadhan
Author