Saleh Partaonan Daulay Soroti Dampak Melemahnya Rupiah Terhadap Kunjungan WNA
Penurunan nilai tukar rupiah memicu lonjakan kunjungan warga negara asing ke Indonesia, khususnya ke Jakarta. Kondisi tersebut mendapat perhatian dari Ketua Komisi VII DPR RI Saleh Partaonan Daulay yang menilai fenomena ini perlu diantisipasi agar tidak berdampak negatif dalam jangka panjang.
Seperti dilaporkan Detikcom, Saleh mengonfirmasi bahwa anjloknya kurs rupiah menjadi daya tarik tersendiri bagi warga asing untuk berkunjung. Perbedaan nilai mata uang tersebut dimanfaatkan oleh para pelancong untuk berbelanja di dalam negeri.
"Saya tidak bisa bicara spesifik soal kurs mata uang. Bukan bidang saya. Yang jelas, perbedaan kurs yang ada membuat WNA, terutama dari Singapore, banyak yang singgah untuk belanja. Mereka merasa ada keuntungan jika belanja langsung di Indonesia. Itu adalah konsekuensi pasar bebas dan terbuka. Siapa saja boleh belanja di mana saja," kata Saleh saat dihubungi, Rabu (3/6/2026).
Situasi ini pada dasarnya memberikan dampak positif jangka pendek bagi para pedagang lokal. Komoditas yang dijual menjadi lebih cepat laku karena daya beli wisatawan asing yang meningkat.
"Mereka tentu dapat keuntungan dari nilai transaksi yang ada," imbuhnya.
Meski menguntungkan sektor perdagangan, Saleh mengingatkan pemerintah agar tidak mengabaikan risiko jangka panjang dari pelemahan mata uang ini.
"Kalau sampai titik itu, saya kira tidak masalah. Tetapi, fenomena ini tidak bisa dibiarkan terus-menerus. Dampak negatif yang mungkin muncul bagi ekonomi kita harus dihindari," ujar Waketum PAN ini.
Ia menambahkan bahwa kedatangan turis asing untuk berwisata adalah hal yang positif. Kendati demikian, stabilitas tatanan perekonomian nasional harus tetap menjadi prioritas utama.
"Justru sebaliknya, kunjungan mereka harus dimanfaatkan untuk meningkatkan daya saing Indonesia. Paling tidak, ekonomi Indonesia harus lebih unggul secara regional di kawasan Asean," tutur dia.
Pemerintah diharapkan mampu merumuskan kebijakan yang tepat agar fenomena kunjungan temporal ini membawa dampak kesejahteraan yang maksimal bagi pelaku usaha domestik.
"Hitung-hitungan bagaimana kunjungan temporal seperti ini berpengaruh, mungkin perlu penjelasan dan perhitungan ahli. Yang jelas, fenomena ini harus dimaksimalkan untuk kebaikan para pedagang dan pelaku usaha di Indonesia. Tidak perlu dikhawatirkan dan dihebohkan. Ambil hikmah terbaik," sambung dia.
Di sisi lain, media Singapura turut menyoroti penurunan nilai tukar rupiah beserta isu kriminalitas jalanan yang sempat viral di Jakarta. Namun, laporan menunjukkan bahwa minat warga Singapura untuk berkunjung tidak surut karena fokus utama mereka adalah belanja dan kuliner.
Melalui artikel berjudul "Jakarta crime fears rise, but rupiah slide keeps Singaporeans coming for shopping and food", media The Straits Times menyebutkan melemahnya rupiah justru mendongkrak daya tarik Jakarta.
"Tidak ada waktu untuk takut — terlalu banyak belanja yang harus dilakukan," canda Noraini Rahmat saat diwawancarai The Straits Times, Senin (1/6).
Perempuan berusia 52 tahun yang bekerja di industri kesehatan tersebut melakukan perjalanan belanja intensif bersama saudaranya pada 22 hingga 25 Mei.
"Tentu saja, ketika video seperti itu menjadi viral, orang-orang akan membicarakannya. Tapi jujur saja, kami hanya mencoba berhati-hati seperti yang kami lakukan di Singapura atau kota besar lainnya," kata Noraini.
Para wisatawan mengaku tetap menerapkan kewaspadaan standar selama berada di tempat umum guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
"Jangan berdiri terlalu dekat dengan jalan dengan ponsel Anda terpampang, jangan biarkan tas Anda terbuka. Anda tahu, hal-hal dasar seperti itu," imbuh warga Singapura itu.