Saham Teknologi Rontok Terseret Sektor Semikonduktor Global
Pasar saham global mengalami penurunan tajam yang dipicu oleh rontoknya sektor semikonduktor. Sektor yang memimpin kenaikan pasar sepanjang 2026 ini mendadak dilanda keraguan investor terkait keberlanjutan tren kecerdasan buatan.
Dilansir dari Bloombergtechnoz, penurunan ini dipicu oleh aksi jual teknis pada saham-saham cip terkemuka. Koreksi massal tersebut menyeret sejumlah indeks utama di bursa Wall Street dan pasar Asia melemah secara signifikan.
Indeks Semikonduktor Philadelphia merosot 7,9% dengan seluruh 30 anggotanya mencatatkan penurunan. Koreksi ini dipimpin oleh Micron Technology Inc., Marvell Technology Inc., dan On Semiconductor Corp. yang harganya sempat naik dua kali lipat pada 2026.
Pelemahan ini berdampak langsung pada indeks S&P 500 yang ditutup melemah 1,4%. Di sisi lain, Nasdaq 100 anjlok hingga 3,3%, sementara Dow Jones Industrial Average hanya turun tipis 0,1%.
Analis pasar mengidentifikasi adanya potensi risiko koreksi lanjutan untuk saham teknologi dalam jangka menengah. Tekanan ini terjadi setelah lonjakan harga yang dinilai terlalu tinggi.
"Terlepas dari apakah pasar akan mengalami reli dalam jangka pendek atau tidak, kami tetap melihat risiko penurunan dalam jangka menengah untuk perdagangan teknologi atau AI," kata Jonathan Krinsky, kepala analis pasar di BTIG LLC.
Jonathan Krinsky memproyeksikan penurunan susulan berkisar antara 10% hingga 15% pada kelompok saham semikonduktor. Ia menjuluki fenomena koreksi massal ini sebagai sebuah situasi krisis bagi industri cip.
Saham Micron sendiri menutup sesi perdagangan dengan anjlok sebesar 13%. Padahal, emiten ini menjadi saham berkinerja terbaik di Indeks Semikonduktor Philadelphia tahun ini dengan lonjakan di atas 300% menjelang rilis laporan keuangan.
"Sepertinya ini lebih merupakan aksi jual yang dipicu faktor teknis daripada hal lain," kata Jack Janasiewicz, manajer portofolio Natixis Advisors.
Jack Janasiewicz menilai pergerakan pasar secara keseluruhan masih bertahan dengan cukup baik. Karakteristik saham beta dan momentum tinggi yang rawan likuidasi parah ternyata masih menunjukkan pergerakan yang terbatas.
Aktivitas Emiten Besar dan Dampak Pasar Asia
Di tengah tekanan pasar, sejumlah perusahaan raksasa menunjukkan volatilitas pergerakan saham yang bervariasi. Rencana akuisisi dan kebijakan internal korporasi turut memengaruhi sentimen investor.
Saham Qualcomm Inc. ikut terjun bebas di tengah pembicaraan rencana akuisisi terhadap perusahaan perangkat lunak AI, Modular Inc. Penurunan juga menimpa Apollo Global Management Inc. akibat pembatasan penarikan dana investor ritel.
Sementara itu, saham SpaceX berhasil naik tipis sekaligus menghentikan tren penurunan tiga hari berturut-turut. Sebelumnya, koreksi tersebut telah mengikis kapitalisasi pasar perusahaan milik Elon Musk ini hingga lebih dari US$600 miliar.
Sentimen negatif bursa Amerika Serikat ini mengekor pelemahan yang terjadi di pasar Asia pada hari yang sama. Indeks Kospi Korea Selatan bahkan anjlok hingga 10% dan memicu aktivasi mekanisme pembatasan perdagangan.
Saham raksasa teknologi Korea Selatan seperti SK Hynix Inc. dan Samsung Electronics Co. ambruk lebih dari 10%. Pemicunya adalah laporan lokal mengenai pelambatan ekspansi produksi cip memori AI oleh SK Hynix yang beralih ke komoditas DRAM murah.
"Perusahaan hyperscaler adalah saham software baru. Grup ini tidak bisa lepas dari masalahnya sendiri karena mereka menyeret tujuh perusahaan berkapitalisasi raksasa ‘Magnificent Seven’ ke level yang lebih rendah," tulis Michael O’Rourke, chief market strategist JonesTrading Institutional Services LLC, dalam catatan.
Meskipun demikian, indeks Nasdaq 100 tercatat masih menguat di atas 30% sejak akhir Maret. Sejumlah pelaku pasar memprediksi fase koreksi ini hanya akan berlangsung dalam waktu singkat.
"Orang-orang sedang mencari alasan untuk melakukan lindung nilai namun tetap berinvestasi," kata Julian Emmanuel, Kepala Strategi Ekuitas dan Kuantitatif Evercore ISI.
Pada perkembangan lain, Bending Spoons SpA bersama jajaran investornya tengah berupaya menghimpun dana segar hingga US$1,62 miliar melalui penawaran umum perdana. Di sisi makroekonomi, aktivitas bisnis manufaktur Amerika Serikat mencatatkan pertumbuhan tercepat dalam lima bulan dengan rata-rata kenaikan tenaga kerja sektor swasta mencapai 30.750 per minggu.