Saham Teknologi AS Melesat, Bursa Asia Bersiap Menguat

Share

Bursa saham di Asia bersiap bergerak menguat tipis setelah reli pada sejumlah saham raksasa teknologi Amerika Serikat (AS) kembali membangkitkan kepercayaan pasar. Tren penguatan (bullish) yang digerakkan oleh sektor kecerdasan buatan (AI) dinilai masih memiliki ruang untuk melaju, dilansir dari Bloombergtechnoz. Kontrak berjangka (futures) indeks saham mengindikasikan pembukaan pasar yang positif di Tokyo dan Hong Kong.

Sektor semikonduktor serta Indeks Kospi di Korea Selatan diprediksi akan menjadi pusat perhatian utama hari ini. Perkembangan ini menyusul rilis laporan laba Samsung Electronics Co yang berhasil melampaui estimasi pasar. Selain itu, SK Hynix Inc resmi memulai proses pemasaran formal untuk pencatatan saham perdana (listing) mereka di bursa AS.

Sentimen investor di Asia ikut terdongkrak oleh pemulihan saham teknologi di Wall Street, di mana indeks S&P 500 ditutup naik 0,7% dan indeks Nasdaq 100 melesat 1,3%. Indeks acuan untuk produsen cip di AS juga menanjak 2,2%, sekaligus memutus tren penurunan yang sempat terjadi selama dua hari berturut-turut.

Di sektor komoditas, minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) tertahan dalam tren pelemahan seiring adanya indikasi kelebihan pasokan (oversupply) yang kian nyata. Kondisi ini dipicu oleh kebijakan Arab Saudi yang memangkas harga jual minyaknya serta aktivitas lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz yang kian padat. Sementara itu sepanjang sesi perdagangan di New York, surat utang pemerintah AS (Treasuries) jangka pendek bergerak naik tipis. Di sisi lain, nilai tukar yen terpantau stabil di kisaran 162,08 per dolar AS, meskipun dana lindung nilai (hedge funds) mencatatkan posisi paling negatif terhadap mata uang Jepang tersebut sejak tahun 2007.

Fluktuasi tajam yang melanda saham-saham teknologi dalam beberapa pekan terakhir membuat para investor berburu bukti dan validasi baru terkait prospek bisnis AI ke depan. Walaupun saham sektor semikonduktor baru saja membukukan kuartal terbaik sepanjang sejarah, volatilitas pasar kian meningkat. Kondisi ini dipicu munculnya spekulasi terkait ketatnya persaingan, potensi kelebihan kapasitas produksi (overcapacity), serta timbal balik nyata dari investasi jumbo yang telah digelontorkan. Menurut tim analis dari BlackRock Investment Institute (BII) yang dipimpin oleh Jean Boivin, perdebatan mengenai apakah euforia AI saat ini sudah berlebihan sebenarnya bukan lagi mempermasalahkan valuasi harga saat ini, melainkan tentang apakah pertumbuhan laba di masa depan dapat terus bertahan di level yang luar biasa tinggi.

"Apakah kita sedang berada dalam gelembung (bubble) AI? Kami menilai jawabannya sangat bergantung pada kemampuan AI untuk mengubah kelangkaan hari ini menjadi kelimpahan di masa depan," tulis laporan resmi BII. "Pasar kian gencar memperhitungkan potensi hasil tersebut, dengan harapan bahwa AI mampu mendongkrak produktivitas dan pertumbuhan ekonomi yang cukup kuat demi mempertahankan kinerja laba luar biasa yang ada saat ini."

Pihak BII juga menekankan bahwa kunci utamanya terletak pada mampu tidaknya kinerja laba tersebut bertahan secara jangka panjang—bukan lagi melihat posisi valuasi secara historis. Jika berkaca pada margin keuntungan perusahaan saat ini yang masih tinggi, target tersebut dinilai masih sangat mungkin tercapai.

"Minggu ini, para investor akan mencari sinyal apakah volatilitas yang terjadi pada saham teknologi baru-baru ini mulai menunjukkan tanda-taban stabil," ungkap Mark Haefele dari UBS Chief Investment Office.

"Pasar juga akan menilai apakah tekanan yang melanda saham perusahaan penyedia layanan komputasi awan skala besar (hyperscaler) baru-baru ini bakal mengubah arah proyeksi belanja modal di sektor AI."

Lonjakan Laba Masif Samsung Electronics

Kembali ke pasar Asia, fokus awal pelaku pasar tertuju pada rilis kinerja keuangan raksasa teknologi Samsung. Laba kuartalan perusahaan tersebut dilaporkan meroket hingga 19 kali lipat, melesat jauh di atas ekspektasi pasar yang tinggi.

Lonjakan ini terjadi berkat permintaan yang luar biasa terhadap produk cip memori yang dibutuhkan untuk infrastruktur pusat data (data center) AI. Produsen memori terbesar di dunia tersebut mencatatkan estimasi laba operasional awal sebesar 89,4 triliun won (sekitar US$58 miIiar) dalam periode tiga bulan yang berakhir pada Juni.

Capaian masif dalam satu kuartal ini bahkan sukses mengalahkan akumulasi performa kinerja Samsung di sepanjang tahun 2025 lalu. Sebelumnya, para analis rata-rata memproyeksikan laba operasional raksasa teknologi tersebut berada di kisaran 84,2 triliun won.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
melinda-putri-handayani
Author