Saham S&P 500 Cetak Rekor Bullish Mingguan Terpanjang Sejak 2023

Share

Optimisme melanda bursa saham Wall Street seiring meningkatnya harapan tercapainya perdamaian abadi antara pemerintah Amerika Serikat dan Iran. Situasi tersebut mendorong indeks S&P 500 mencatatkan serangkaian kenaikan mingguan terpanjang sejak tahun 2023.

Seperti diberitakan oleh Bloombergtechnoz, indeks S&P 500 berhasil membukukan penguatan selama delapan minggu berturut-turut. Performa ini dicapai setelah indeks melonjak sekitar 18% dari level terendah yang sempat dipicu oleh sentimen perang.

Di sisi lain, pergerakan yield obligasi dua tahun melonjak ke level tertinggi sejak Februari 2025. Lonjakan ini terjadi setelah Gubernur Federal Reserve Christopher Waller menyatakan dukungannya bahwa kebijakan suku bunga berikutnya cenderung naik, bukan turun.

Kondisi tersebut membuat pasar uang mengantisipasi sepenuhnya potensi kenaikan suku bunga pada tahun ini. Sementara itu, harga minyak mentah AS ditutup di bawah US$97 per barel setelah melewati sesi perdagangan yang bergejolak.

Negosiasi antara kedua negara menunjukkan perkembangan baru setelah konflik berlangsung hampir tiga bulan. Iran dilaporkan sedang mempelajari proposal terbaru dari AS, didampingi Panglima Angkatan Darat Pakistan sebagai mediator utama yang kini berada di Teheran.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengungkapkan adanya kemajuan kecil dalam proses negosiasi tersebut. Namun, pihak Iran menegaskan bahwa kesepakatan final belum tercapai dan pertemuan mediator bukan tanda bahwa kesepakatan sudah dekat.

"Kesepakatan Iran dengan AS belum tercipta, dan pertemuan Panglima Angkatan Darat Pakistan tidak dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa ‘deal’ itu sudah dekat, dilaporkan Islamic Republic News Agency, mengutip Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei. Fokusnya adalah mengakhiri perang, katanya."

Aktivitas pembelian saham yang tetap tinggi menjelang libur panjang tiga hari di AS menunjukkan keberanian para pelaku pasar dalam mengambil risiko. Sentimen positif ini dinilai mencerminkan keinginan kuat investor untuk memanfaatkan momentum kenaikan harga saham.

"Dalam suasana yang lebih menghindari risiko, kita mungkin mengharapkan para pedagang untuk mengurangi risiko dan menutup posisi," kata Steve Sosnick dari Interactive Brokers.

"Sebaliknya, mereka justru cukup bersedia menambah posisi beli, yang mengindikasikan bahwa mereka tidak ingin mengambil risiko melewatkan reli dividen perdamaian."

Ketegangan antara AS dan Iran membeku sejak gencatan senjata disepakati pada April lalu, membuat para pelaku pasar terus mencermati dampak ekonominya. Di domestik AS, sentimen konsumen Mei merosot ke rekor terendah disertai pemburukan ekspektasi inflasi jangka panjang.

Arah Kebijakan Hawkish Federal Reserve

Merespons dinamika ekonomi, Christopher Waller menyatakan posisi The Fed saat ini adalah mempertahankan suku bunga acuan. Langkah ini diambil sembari menunggu kejelasan dampak perang terhadap perekonomian global.

Meski demikian, Waller tidak menutup peluang kenaikan suku bunga di masa depan apabila inflasi tidak segera melambat. Pernyataan ini dinilai para analis mempertegas arah kebijakan bank sentral yang cenderung ketat.

"Komentar terbaru Waller mengonfirmasi pergeseran ke arah hawkish di Fed," kata Krishna Guha dari Evercore.

"Meski demikian, pada saat yang sama, sikap kebijakannya tidak seagresif nada bicaranya, dengan Waller mengatakan ia siap untuk menunggu dan melihat untuk saat ini."

Di sisi kepemimpinan bank sentral, Presiden AS Donald Trump menegaskan komitmennya untuk menjaga independensi Kevin Warsh yang baru dilantik memimpin The Fed. Langkah ini ditujukan untuk meredam kekhawatiran pasar terkait potensi intervensi kebijakan.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
gilang-permana-putra
Author