Saham Garuda Indonesia Melonjak 33 Persen Imbas Isu Merger Pelita Air

Share

Harga saham PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) melonjak hingga 33,33 persen menyentuh batas Auto Rejection Atas (ARA) ke level Rp72 per lembar pada perdagangan Senin (10/8/2026). Penguatan tajam ini didorong oleh laporan kinerja perseroan serta kejelasan rencana konsolidasi bersama Pelita Air.

Aktivitas perdagangan di Bursa Efek Indonesia mencatat transaksi saham GIAA mencapai 534,47 juta lembar saham dengan nilai transaksi menembus Rp35,5 miliar. Kenaikan harga ini juga bertepatan dengan keterbukaan informasi perseroan terkait pemaparan kinerja dalam Surabaya Investor Meeting and Connectivity 2026.

Riset BRI Danareksa Sekuritas mencatat bahwa selain wacana penggabungan usaha, sentimen positif pasar juga dipicu oleh penantian investor terhadap perilisan laporan keuangan kuartal II-2026 yang masih dalam proses audit.

Manajemen Garuda Indonesia memberikan penjelasan resmi terkait perkembangan rencana penggabungan bisnis dengan entitas penerbangan milik PT Pertamina (Persero) tersebut.

"Kajian tersebut masih bersifat menyeluruh dan mencakup berbagai aspek strategis, dengan mempertimbangkan penguatan ekosistem penerbangan nasional sekaligus keberlanjutan agenda transformasi perseroan," jelas manajemen GIAA.

Perseroan menegaskan belum ada keputusan final mengenai mekanisme maupun bentuk penggabungan entitas tersebut.

"Sampai dengan saat ini belum terdapat keputusan final mengenai bentuk maupun mekanisme konsolidasi tersebut," jelas manajemen.

Garuda Indonesia memastikan seluruh kegiatan operasional dan jadwal penerbangan tetap berjalan normal tanpa mengalami gangguan.

"Perseroan tetap menjalankan kegiatan operasional, pelayanan kepada pelanggan, dan agenda transformasi sebagaimana berjalan saat ini, tanpa terdapat perubahan pada rencana penerbangan maupun komitmen layanan Perseroan," kata manajemen.

Manajemen imbau pemangku kepentingan untuk memantau informasi resmi perseroan.

"Setiap perkembangan yang bersifat material akan disampaikan oleh Perseroan sesuai dengan ketentuan keterbukaan informasi yang berlaku," ungkap perseroan.

Sebelumnya, Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri sempat membeberkan rencana perampingan portofolio bisnis aviasi dalam rapat kerja bersama DPR RI pada 11 September 2025.

"Sebagai contoh untuk airline kami, kita sedang penjajakan awal untuk penggabungan dengan Garuda Indonesia," kata Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri.

Langkah perampingan portofolio ini juga sejalan dengan arahan optimasi bisnis yang didorong oleh BPI Danantara.

"Kami juga melakukan optimasi proses bisnis di seluruh lini sehingga setiap aktivitas dapat berjalan lebih efisien dan efektif," kata Simon.

Dari sisi kinerja keuangan, Garuda Indonesia mencatatkan pendapatan sebesar USD762,4 juta pada kuartal I-2026, tumbuh 5,4 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya sebesar USD723,6 juta. Perbaikan operasional ini berhasil memangkas rugi bersih perseroan sebesar 45,2 persen menjadi USD41,6 juta.

Untuk menjaga kinerja dari fluktuasi harga avtur dan dinamika geopolitik, manajemen GIAA menerapkan efisiensi konsumsi bahan bakar, fleksibilitas rute, serta optimalisasi pendapatan non-tiket. Perseroan juga menambah armada operasional menjadi 102 unit pesawat pada awal tahun 2026.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
tiara-puspita-sari
Author