Saham BACH Melonjak 129 Persen Sejak IPO di Bursa Efek Indonesia
Harga saham PT Bach Multi Global Tbk (BACH) melesat 15,34 persen ke level Rp 1.015 per lembar pada perdagangan Senin (3/8/2026). Lonjakan tersebut mencatatkan kenaikan akumulasi hingga 129 persen dari harga penawaran umum perdana sebesar Rp 442 per lembar.
Aktivitas transaksi saham emiten pendukung infrastruktur telekomunikasi ini mencapai 537,62 juta saham dengan frekuensi 51.127 kali dan nilai transaksi Rp 520,45 miliar. Investor asing mencatatkan beli bersih senilai Rp 10,06 miliar pada hari tersebut, sehingga total net buy asing mencapai Rp 79,21 miliar dalam sepekan terakhir.
Kenaikan harga saham perseroan yang resmi melantai di Bursa Efek Indonesia sejak 8 Juli 2026 ini sejalan dengan prospek positif sektor penunjang telekomunikasi. Perkembangan jaringan 5G, transformasi digital, serta kebutuhan layanan komputasi awan dan kecerdasan buatan menjadi pendorong utama industri ini.
Pengamat CORE Indonesia Dipo Satria Ramli menilai peluang pertumbuhan sektor infrastruktur telekomunikasi masih terbuka lebar dalam tiga hingga lima tahun mendatang. Kebutuhan menara dan jaringan serat optik terus meningkat seiring tingginya permintaan dari pelanggan individu maupun korporasi.
"Masih besar 3-5 tahun ke depan, kebutuhan untuk tower dan fiber optic masih tinggi karena kebutuhan customer dan corporate yang terus meningkat," kata Dipo Satria Ramli, Pengamat CORE Indonesia.
Dipo menambahkan bahwa transisi dari jaringan 4G ke 5G memerlukan densitas menara yang lebih tinggi melalui pembangunan microcells di berbagai wilayah Indonesia.
"Sangat strategis karena mereka adalah penentu keandalan dan keberlanjutan infrastruktur telekomunikasi dan ekonomi digital," ujar Dipo Satria Ramli, Pengamat CORE Indonesia.
Ia menyoroti pasokan listrik yang belum stabil serta jaringan serat optik yang belum terintegrasi sebagai tantangan utama di daerah.
"Tanpa reliability dari internet dan telekomunikasi, ekonomi digital tidak bisa terbangun," kata Dipo Satria Ramli, Pengamat CORE Indonesia.
Sementara itu, ketersediaan pasokan listrik menjadi syarat mutlak dalam pengoperasian Base Transceiver Station (BTS) di seluruh Indonesia.
"Pemilihan pemasangan BTS yang pertama dilihat ketersediaan sistem daya dan keandalannya. Jadi merupakan prioritas utama dalam pembangunan infrastruktur BTS," kata Ian Yosef M. Edward, Ketua Pusat Kajian Kebijakan dan Regulasi Telekomunikasi Institut Teknologi Bandung (ITB).
Perhatian investor terhadap emiten distributor resmi produk Himoinsa dan pemilik merek Austin Power System ini juga terdorong oleh faktor kepemilikan struktur modal. Masuknya Grup Djarum melalui PT Global Teknologi Perkasa menjadi pengendali baru bagi perseroan.
"Masuknya Grup Djarum memang menjadi katalis yang meningkatkan perhatian investor terhadap BACH. Namun, saya melihat pasar juga mulai memahami model bisnis perseroan secara lebih utuh," kata Fauzan Luthsa, Pengamat Pasar Modal Menteng Kleb.
Fauzan menjelaskan bahwa perseroan tidak sekadar menjual genset, melainkan telah menangani sekitar 41.000 site telekomunikasi dalam ekosistem nasional.
"Menurut saya, pemahaman inilah yang mulai berkembang di pasar," ujar Fauzan Luthsa, Pengamat Pasar Modal Menteng Kleb.
Perubahan persepsi pasar terhadap model bisnis perseroan menjadi penopang utama tren positif pergerakan harga saham di bursa.
"Pada akhirnya pasar tetap akan melihat kinerja perusahaan. Namun, perubahan cara pandang terhadap model bisnis BACH menjadi salah satu faktor yang ikut mendorong meningkatnya perhatian investor," kata Fauzan Luthsa, Pengamat Pasar Modal Menteng Kleb.