Saham Asia Diprediksi Menguat Dipicu Harapan Damai AS dan Iran
Pasar saham di kawasan Asia diproyeksikan mengalami penguatan terbatas pada perdagangan Rabu ini. Pergerakan tersebut dipicu oleh optimisme para pelaku pasar terkait peluang penandatanganan kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran.
Harapan terhadap jalur diplomasi ini tetap terjaga di kalangan investor. Padahal, situasi di lapangan masih diwarnai dengan kelanjutan ketegangan militer di kawasan Teluk Persia.
Dikutip dari Bloombergtechnoz, kontrak berjangka untuk indeks saham di Jepang dan Tiongkok daratan mencatat kenaikan pada awal sesi perdagangan. Sementara itu, kontrak berjangka untuk pasar Hong Kong dan Australia terpantau bergerak stagnan.
Sentimen positif dari negosiasi damai sebelumnya telah mendorong indeks S&P 500 menyentuh rekor tertinggi baru. Sektor produsen chip menjadi motor utama penguatan tersebut, salah satunya ditandai dengan kapitalisasi pasar Micron Technology Inc. yang menembus angka US$1 triliun.
Di pasar obligasi, imbal hasil surat utang pemerintah Amerika Serikat mengalami penurunan seiring meredanya kekhawatiran terhadap lonjakan inflasi. Kondisi ini membuat para pelaku pasar mengurangi proyeksi terhadap kenaikan suku bunga Federal Reserve dalam waktu dekat.
Indeks minyak Brent bergerak naik ke kisaran US$100 per barel setelah sempat anjlok lebih dari 7% pada hari Senin. Di sisi lain, indeks dolar Amerika Serikat mencatatkan kenaikan tipis sebesar 0,1%.
Rangkaian pergerakan instrumen keuangan ini mencerminkan keyakinan pasar bahwa konflik di Timur Tengah akan tetap terlokalisasi. Investor cenderung memanfaatkan sinyal kemajuan diplomasi global untuk masuk ke aset berisiko, yang pada gilirannya meredam kekhawatiran terkait tekanan inflasi bank sentral.
"Para pelaku pasar bertaruh pada perdamaian dan kemudian membeli saham berdasarkan fundamental yang sangat kuat," kata Kyle Rodda dari Capital.com.
Presiden Donald Trump menyatakan bahwa proses negosiasi untuk memperpanjang gencatan senjata masih berjalan. Langkah diplomasi ini juga mencakup upaya pembukaan kembali jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz.
Namun, Menteri Luar Negeri Marco Rubio memberikan catatan bahwa penyelesaian kesepakatan tersebut masih membutuhkan waktu beberapa hari. Situasi keamanan di jalur energi utama itu juga belum sepenuhnya stabil setelah kedua belah pihak saling melepaskan serangan.
Komando Pusat Amerika Serikat turut membantah laporan yang menyebutkan bahwa kekuatan militer mereka memberikan pengawalan bagi kapal-kapal yang melintas. Kondisi ini membuat sejumlah analis memilih untuk tetap bersikap waspada.
"Meskipun kami ingin berbagi optimisme, telah terjadi cukup banyak kemunduran dalam proses penyusunan kesepakatan antara Washington dan Teheran sehingga kami akan tetap berhati-hati sampai ada kemajuan yang lebih nyata," kata Ian Lyngen di BMO Capital Markets.
Untuk agenda ekonomi di Asia, sejumlah data penting dijadwalkan rilis termasuk laporan laba industri Tiongkok, tingkat inflasi Australia, dan keputusan suku bunga Selandia Baru. Jepang juga bersiap menerbitkan obligasi tenor 40 tahun, sementara pasar keuangan di Indonesia, Singapura, dan Malaysia sedang tutup.
Dari sektor korporasi, perkembangan teknologi menjadi perhatian setelah Tiongkok membatasi perjalanan luar negeri bagi ahli kecerdasan buatan dari Alibaba Group Holding Ltd. dan DeepSeek. Kebijakan ini mempertegas rivalitas sektor teknologi antara Beijing dan Washington.
Sementara itu, kinerja keuangan Xiaomi Corp. menunjukkan penurunan laba kuartalan yang melebihi estimasi pasar. Penurunan performa perusahaan asal Tiongkok ini disebabkan oleh lonjakan harga komponen memori yang membebani lini bisnis ponsel pintar mereka.
Di Amerika Serikat, data Conference Board menunjukkan indeks kepercayaan konsumen turun menjadi 93,1 pada bulan Mei dari revisi bulan sebelumnya. Angka ini berada di atas ekspektasi median para ekonom yang memproyeksikan level 92.
"Mengingat tekanan harga saat ini, kami memperkirakan penurunan kepercayaan yang lebih drastis," kata Jeffrey Roach dari LPL Financial. "Namun, konsumen merasa situasi ketenagakerjaan akan membaik pada akhir tahun."
Pergerakan saham Micron Technology Inc. mendapatkan dorongan setelah UBS Group AG menaikkan target harga menjadi US$1.625 per lembar saham. Angka tersebut menjadi target tertinggi yang dipatok oleh analis di pasar saat ini.
Di sektor infrastruktur kecerdasan buatan, Qualcomm Inc. berhasil menyepakati kerja sama dengan ByteDance Ltd. Perusahaan akan memasok komponen chip untuk pusat data pemilik aplikasi TikTok tersebut sebagai langkah ekspansi dari pasar prosesor ponsel pintar.
Saham sektor antariksa dan satelit juga mengalami lonjakan imbas rencana penawaran umum perdana atau IPO dari SpaceX. Perusahaan bentukan Elon Musk tersebut telah mengajukan dokumen peluncuran saham pada pekan lalu.
Proyek eksplorasi luar negeri turut mendapat sentimen positif setelah NASA menunjuk Blue Origin dan Firefly Aerospace untuk mengirim pendarat robotik ke bulan. Proyek ini merupakan bagian dari percepatan pembangunan pangkalan bulan oleh pemerintahan Trump.
Di industri farmasi, Eli Lilly & Co. melanjutkan ekspansi masif dengan nilai akuisisi melampaui US$20 miliar sepanjang tahun 2026. Langkah strategis ini diambil guna memperluas portofolio bisnis di luar produk penanganan obesitas.
Kabar mengejutkan datang dari sektor energi setelah BP Plc memberhentikan Ketua Dewan Direksi Albert Manifold yang baru menjabat beberapa bulan. Keputusan pemecatan ini diambil berkaitan dengan masalah standar tata kelola dan pengawasan internal perusahaan.
Pada awal perdagangan waktu Tokyo, kontrak berjangka S&P 500, Hang Seng, dan S&P/ASX 200 terpantau bergerak relatif stabil. Mata uang Euro berada di posisi US$1,1633, sedangkan Yen Jepang diperdagangkan pada level 159,29 per dolar AS.
Yuan offshore stabil pada posisi 6,7861 per dolar AS, dan Dolar Australia berada di level US$0,7168. Untuk pasar aset kripto, Bitcoin mengalami penurunan 0,2% ke harga US$75.841,23, diikuti Ether yang melemah ke US$2.071,92.
Minyak mentah West Texas Intermediate mencatatkan penurunan sebesar 0,4% menuju harga US$93,49 per barel. Di saat yang sama, harga untuk komoditas emas spot tidak menunjukkan perubahan besar di pasar komoditas.