Rupiah Stabil di Pasar NDF Jelang Penutupan Sentimen Global Juni 2026
Nilai kontrak mata uang rupiah di pasar Non-Deliverable Forwards (NDF) dibuka pada posisi stabil di level Rp17.958/US$ setelah mengalami pelemahan sebesar 0,49% pada hari sebelumnya. Dilansir dari Bloomberg Technoz, mata uang garuda di pasar offshore kemudian bergerak menguat 0,12% ke posisi Rp17.937/US$.
Kondisi pasar mata uang di kawasan Asia secara umum terpantau melemah akibat pergerakan indeks dolar Amerika Serikat (AS) yang bertahan tinggi di level 101,41. Baht Thailand mencatatkan penurunan terdalam hingga menyentuh level terendah sepanjang tahun ini karena proyeksi pelebaran selisih suku bunga dengan AS.
Pelemahan terhadap greenback juga dialami oleh won Korea Selatan, ringgit Malaysia, dolar Singapura, dan yen Jepang, sementara yuan offshore hanya menguat terbatas 0,01%. Di sisi lain, harga minyak mentah dunia bergerak stabil pada angka US$76,70 per barel setelah kapal-kapal mulai kembali melewati jalur Selat Hormuz di tengah negosiasi pertalian AS dan Iran.
Penguatan dolar AS dipicu oleh sikap hawkish Bank Sentral AS atau The Fed yang mengindikasikan bakal menaikkan suku bunga acuan setidaknya satu kali pada tahun ini. Prospek tersebut memicu perpindahan aset investor ke pasar finansial AS, yang berdampak pada penurunan yield US Treasury di seluruh tenor.
Imbal hasil US Treasury tenor 2 tahun turun sebesar 3,4 basis poin (bps) ke posisi 4,19%, tenor 5 tahun merosot 2,3 bps ke 4,26%, dan tenor 10 tahun terpangkas 1,4 bps ke level 4,49%. Pergerakan modal global ini terus membayangi posisi mata uang di pasar berkembang.
Dari dalam negeri, pasar keuangan domestik dipengaruhi kabar penundaan evaluasi pasar saham oleh MSCI yang membutuhkan waktu lebih lama untuk mengukur efektivitas reformasi transparansi baru. Meski demikian, status Indonesia dipertahankan sebagai emerging markets, sehingga pasar saham domestik terhindar dari aksi jual masif.
Dinamika Lelang SUN dan Analisis Teknikal Rupiah
Aksi lepas aset masih terjadi di pasar obligasi domestik untuk mayoritas tenor, meskipun imbal hasil beberapa tenor tertentu tercatat menurun. Yield obligasi tenor 1 tahun turun 7,1 bps ke 7,19%, tenor 4 tahun melorot 0,5 bps ke 7,29%, dan tenor 6 tahun menyusut tipis 0,1%.
Pada lelang Surat Utang Negara (SUN) kemarin, total penawaran yang masuk turun 0,26% menjadi Rp46,58 triliun dari nilai sebelumnya Rp46,7 triliun. Namun, pemerintah meningkatkan volume pemenangan penawaran sebesar 13,85% menjadi Rp30 triliun dari lelang sebelumnya yang senilai Rp26,35 triliun.
Pemerintah mengambil porsi serapan lebih tinggi karena yield yang diajukan investor lebih rendah dari periode lelang sebelumnya melalui pembelian agresif di tenor menengah. Walau kualitas lelang SUN membaik, pergerakannya tetap dibayangi oleh penguatan dolar AS seiring sikap investor memburu aset aman.
Secara teknikal, rupiah masih menghadapi risiko pelemahan dengan target support pertama menuju Rp17.900/US$ dan potensi penahanan berikutnya di level Rp17.960/US$. Jika nilai tukar terus tertekan hingga menembus ke atas Rp18.000/US$, pelemahan lanjutan dapat menguji Rp18.100/US$, sedangkan posisi resistance psikologis harian berada di level Rp17.800/US$ dengan target penguatan di Rp17.700/US$.